

Kini kita tiba pada masa dimana Aji kecil sudah tidak lagi kecil. Entah kapan tepatnya tubuh Aji mendadak besar seperti raksasa dan ototnya menyembul dari balik seragam putih abu. Tingginya sudah jauh di atas pucuk kepala Rara.
Begitu pula Rara yang dulunya punya hobby bermain bola mendadak suka berdandan dan kerap menyapukan gincu di bibirnya setiap menit. Oh, soal obsesi Rara dengan cinta pun dulunya kokoh tapi kini ikutan mendadak mulai inkonsisten.
Dunia berotasi tanpa satu orang pun tahu apa rencananya.
“Udah, Ra. Ini pertanda bagus, lo dibukakan matanya supaya gak lama-lama pacaran sama cowok gak jelas.”
“Gue gak percaya cinta, Ji!”
Dialog antara dua sekawan tersebut muncul berdesakan dengan pekik klakson di tengah macet jalan Jakarta.
Aji dan Rara terjebak macet. Kalau kata Aji ini semua ulah Rara yang mendadak ingin ditemani ke event cosplay. Agenda kejar-kejaran foto bareng karakter anime sore itu sangat menguras energi dan ternyata memakan waktu cukup lama juga. Akhirnya, matahari sudah tenggelam tapi mereka berdua masih mengenakan seragam putih abu dan hanya bisa adu mulut di dalam mobil.
“Lo ngomong gak percaya cinta udah ratusan kali di tiap akhir hubungan yang berbeda-beda.”
“Emangnya apa kurangnya gue sih, Ji? Udah gue bolehin cium bibir gue juga masih aja demen nyariin cewek lain. Gue juga bisa kali cipokan sama anak kelas sebelah. Eh anjing kok orang pada gak maju-maju sih? Udah tau macet goblok dah!” pertanyaan dan protes saling menimpali sebagai respon Rara terhadap pernyataan Aji yang menyebalkan itu.
Menurut pengakuan Rara sih, dirinya gak pernah lupa soal prinsipnya yang tidak percaya cinta itu. Memangnya ia berpacaran dengan laki-laki ada artinya? Enggak. Sekadar buat seru-seruan aja.
Lalu disinilah Aji dengan muka yang kepalang kesal berusaha mendikte tindakan Rara.
“Memangnya lo gimana sama pacar lo? Baik-baik aja kan, Ji?”
“Dua hari lalu dia minta putus.” ucap Aji sembari membenarkan posisi kacamatanya yang aslinya tidak kenapa-kenapa itu. Kaku.
“Demi apa, Ji? Tuh, kan! Gue benar-benar gak percaya cinta!”
“Hahaha… gue sendiri bingung, sih. Gak berani deklarasi apa-apa. Gak ikut-ikutan.”
Apabila ditelaah dari dialog Aji, terdengar jelas bahwa ia punya konsep yang bertolak belakang dengan pemikiran Rara. Meskipun Aji bukan pribadi yang sudi repot-repot dalam urusan asmara, ia tidak mau bermain-main soal cinta, entah itu dalam bentuk sumpah serapah, maupun dalam bentuk tindakan seperti komitmen.
Makanya, Aji betulan bingung akan mulut Rara yang selalu berani mendeklarasikan hal yang selalu Rara anggap sepele itu.
“Ra, dulu waktu lo SMP diputusin si Reza juga lo ngomong hal yang sama dan seminggu kemudian udah pacaran lagi sama si Taufan.”
“Lah? Daripada elo? Dari SMP sampai SMA sama aja bolak balik putus nyambung sama si Sinbi. Lo beneran butuh psikolog, Ji!”
“Gue ngebosenin, Ra. Sinbi ngomong gitu.” memang sifat Aji yang cenderung cuek dan jarang peduli dengan lingkungan sekitar itu patut dipertanyakan.
“Hahaha…,”
“Ketawain aja terus, Ra. Lagian namanya juga remaja pacaran. Gak ada yang serius.”
Pasalnya, pribadi Aji sungguh segan untuk hal-hal romantis dan tak urung pula justru banyak menutup diri di saat seharusnya hubungan itu soal berbagi.
Begitu pula dengan Rara,
“Heh! Gue itu paling tau lo, Ji. Gue ini saksi kehidupan lo yang biasa-biasa aja itu. Gue kenal baik diri lo yang selalu lembut dan penuh kasih sayang. Bahkan dengan nilai-nilai yang diidamkan sejuta mertua di dunia ini lo bisa dicampakkan perempuan gitu aja, Ji?”
“Ya… gak dicampakkan juga, Ra. Gue cuma—,”
“Shhh, gue ngerti. Cinta itu memang rumit. Sebaiknya jangan lagi percaya cinta.”
“Ya… ya… ya… Gue mendapat petuah dari cewek yang baru saja di selingkuhi pacarnya dan selingkuhannya adalah sahabatnya sendiri.”
“Anjing malah diingetin lagi. Lo tuh–Aji… Ih… Lo–Tega ya…” sebelum Rara dapat menyelesaikan kalimatnya segera dipotong Aji yang mulai sibuk mengusap air mata dan maskara di pipi Rara.
“Ra? Nangis lagi— Hhhhh, sorry… Sorry. Sorry.”
Malam yang semakin larut menjadi saksi dua insan yang masih bodoh soal cinta.
Aji. Lulusan sarjana Ilmu Komunikasi dengan jurusan Jurnalistik sebagai konsentrasinya kemudian lanjut bekerja dalam Industri Pers sebagai Wartawan merangkap Fotografer membuat rekam jejak kehidupannya terdengar mulus. Belum lagi perawakannya yang kerap kali menjadi topik hangat dari rekan wanita yang tak bisa dihitung jari jumlahnya. Terdengar sempurna bukan?
Oh, tapi tunggu sampai orang luar tahu bagaimana susahnya meliput berita kesana kemari menerjang macet dan cuaca yang tidak kondusif. Belum lagi tambahan masalah dimana dirinya sering dijadikan tumbal model sukarela baik dalam pemotretan cetak kalender kantor hingga shooting video tiktok dalam rangka rekrutmen pegawai baru. (berusaha kabur 5 kali dan gagal kabur pula sebanyak 5 kali)
Aji adalah tipe manusia yang ramah dan hadirnya selalu berkesan. Ia suka memperhatikan sekitar, ia juga senang menjulurkan tangan apabila dibutuhkan. Presensinya ada dimana-mana, ia ada di hampir setiap gosip harian di kantornya, ia ada di bisikan-bisikan pujian tersembunyi baik dari balik suara di lift hingga di sela-sela sekat antar kursi dan meja di gedung kantor. Bahkan namanya juga kerap kali muncul dalam obrolan pagi tetangga kiri dan kanan. Isi dari semuanya itu sama, berharap ingin memiliki Aji.
Namun, Aji terlalu acuh akan hal-hal merepotkan seputar romansa. Ia tak peduli akan hati yang kerap berharap lebih kepadanya. Toh, bukan urusan Aji?
Ada terlalu banyak poin dalam to do list di buku agendanya untuk di ceklis, sehingga membangun hubungan dengan komitmen adalah hal terakhir yang ada di pikirannya.
Satu-satunya hiburan dalam hidup Aji yang monoton adalah Rara. Sahabat perempuannya sejak dari baru lahir.
Rara dengan hidup bak roller coaster, ia dinamis. Namun ada satu hal yang sudah mutlak dan semua orang sudah tahu pasti apa itu.
Rara tidak percaya cinta.
Rara adalah manusia paling dinamis yang pernah Aji kenal. Pekerja kreatif yang lucunya selalu berusaha berpikir rasional. Bagi Rara nalar adalah nomor satu dan tidak ada lagi setelahnya. Kalimat barusan diketik bukan tanpa bukti. Nyatanya Aji adalah saksi bagaimana Rara si pekerja kreatif lulusan Desain Komunikasi Visual yang kini berprofesi sebagai Ilustrator di salah satu perusahaan swasta yang sesekali gambar komisi sebagai kerja sambil itu justru cenderung bergantung pada logika dan sangat objektif dalam berpikir.
Hal yang paling mudah diingat adalah bagaimana Rara yang berparas bak bidadari itu sedari SMP sudah banjir surat cinta yang terus ia koreksi bagian tata penulisannya, atau kalau suasana hatinya sedang jelek, surat-surat cinta itu justru akan dijadikan alas garis gambar sketsa anime telanjang.
Sampai SMA pun beberapa kali pacaran hanya untuk bermain-main tanpa melibatkan perasaan sama sekali. Aneh, tapi begitulah adanya.
Ya, tidak ada romansa dalam kamus Rara.
Serupa dan satu pikir dalam menanggapi dilema cinta, keduanya ogah repot-repot untuk berkomitmen perihal cinta. Dalam paham mereka berdua bahwa cinta itu rumit dan pelik serta butuh tenaga lebih untuk dirawat.
“Hoi!”
Aji memergoki Rara yang tengah asik membaca komik bergambar, kalau kata Rara namanya manga.
“Ganteng banget yang habis photoshoot. Pacar siapa, sih? Pacar gue!”
“Diem!” Aji menepis gelitikan tangan Rara dari dagunya.
“Hahaha gimana rasanya jadi Brand Ambassador dadakan Ji?”
“Foto sama seblak doang.”
“Loh, mau apapun bentuk usaha dan bisnisnya gak boleh underestimate. Bagus loh jadi model produk lokal.”
“Hhh, gak tau deh. Gue cuma melotot aja di setiap potret yang diambil. Semoga bisa bantu bisnis rintisan anak-anak deh.”
“Hahaha kocak banget ya anak Intern sekarang. Pada kreatif dan berani!”
“Eunseok sama Heeseung lagi suntuk mikirin gaji kecil tapi keinginan punya honda beat walau nyicil. Bisnis seblak kehitung kreatif dan berani memang.”
“Oh, yang itu pernah DM gue di instagram.”
“Siapa?!”
“Hahahah santai aja kali. Galak amat senior.”
“Siapa yang DM lo? Kok bisa?”
“Waktu kita nonton di bioskop minggu lalu. Lo mention gue kan di Instagram? Nah, itu bocah yang Heeseung itu DM gue. Hahahaha… brondong sekarang nyalinya gede juga.”
“Ok.” raut wajah Aji kini lebih kaku dari kanebo kering.
“Ok apanya woi? Gak usah di marahin anaknya. Cuma kenalan doang.”
“Lancang banget.”
“Elah, kayak sama siapa aja, anjing.”
Mungkin cemburu. Ah, tidak ada yang tahu.
Bertahun-tahun hidup beriringan membuat dua anak manusia ini saling memantulkan sifat satu sama lain. Sama-sama gak jelas maksudnya. Tapi entah kenapa malah cocok jadi saling melengkapi.
“Yaudah, iya. Terus ini jadi Comifuro-nya?”
“Sebentar,” Rara merogoh ransel hitam berukuran jumbo yang dari tadi bersembunyi di bawah kursi. “Tada! Ini dia kostum gue!”
“Kenapa kostum lo selalu gak sopan?”
“Masalah? Situ siapa?”
“Calon suami. Lupa?”
Rara tahu konteks omongan Aji pasti soal janji menikah waktu kecil dulu. Masih, selalu, dan akan terus dibahas. Rara tidak protes.
“Ye, bacot.”
Bacot. Tapi ada semburat merah yang pelan-pelan menyeruak di pipi.
“Sebagai gantinya temenin gue liputan besok.”
“Ngapain anjir?”
“Besok ada demo, seperti biasa.”
“Ah, lo giliran liputan yang ribet dan makan waktu sehari penuh ngajaknya gue. Mana anak magang lo itu? Gak guna.”
Inilah kenapa petuah orang tua soal larangan makan sambil ngomong itu seharusnya diterapkan. Kalau tidak akan berakhir seperti Rara, bibirnya manyun dan belepotan bubuk gula putih dari donat.
“Ya justru makan waktu sehari penuh itu, artinya.. lo juga bebas memiliki gue sehari penuh lainnya. Dongak dikit, Ra—,” Aji berusaha membujuk Rara. Mulutnya sibuk merayu sementara tangannya bergerak membersihkan kotoran dari bibir sahabatnya.
“OH, yaudah. Hari ini gak kehitung loh ya!” Rara unjuk jari, mengancam.
“Ya meski gue udah nemenin ke acara jepang dari siang sampai sore terus malamnya mesti temenin nonton anime sebelum tidur, oke. Kita sepakati sehari penuh bersama itu.”
“Nah gitu, dong! Hehehehe…”
“Nye, nye, nye. Lo jangan mau diajak foto sama cowok yang mukanya gak meyakinkan gitu, Ra.”
“Deskripsikan muka ‘gak-meyakinkan’ itu.”
Lalu Aji menghabiskan seluruh nafasnya mendikte penampilan beberapa oknum wibu yang perawakannya menyebalkan (baginya). Mendengar segala protes yang justru terkesan seperti anak kecil tantrum itu membuat Rara hanya bisa senyam-senyum sendiri.
Rasa nyaman yang meliputi Aji dan Rara banyak dipengaruhi kesamaan-kesamaan. Keduanya tipe yang tidak banyak mulut lantaran sudah lama mengenal membuat mereka berdua mudah mengerti maksud satu sama lain tanpa banyak kompromi.
Aji dan Rara banyak menghabiskan waktu bersama dengan berbagai macam agenda. Kegiatan sepele seperti menonton anime hingga ketiduran di kamar sampai berkeliling kota meliput berita sebagai bahan topik unggahan Aji nanti. Sesekali pula Rara menemani Aji ke event seminar penulis indie favoritnya.
Aji suka menghabiskan waktu di apartemen Rara, disana tempat banyak hal bisa dilakukan. Walau lebih dominan mengutamakan kegiatan Rara, Aji suka dan tidak komplain.
Paling banyak juga diisi dengan membaca buku bersama. Biasanya Aji baca buku-buku sejarah terus duduk di lesehan bersandar pada kayu dipan, lalu Rara tepat di atasnya tiduran sembari membaca komik terjemahan jepang sambil sesekali cekikikan. Kemudian seisi kamar hening, hanya suara bolak-balik kertas yang bergema.
Ah, tentu saja sesekali diiringi celetukan asal-bunyi, “Serius amat. Baca buku porno ya, lo?!”
Pernah juga Aji menumpang tidur di sana, walau tentu saja diselingi urusan pekerjaan. Ia yang mengotak-atik laptop dengan beragam potret untuk dipilah dan segera di upload agar terbit di kolom berita esok. Juga Rara yang asik menggambar karikatur di ipad warna-warni mengusahakan menyelesaikan komisi kesekian.
Mungkin kedengarannya memang sangat tenang dan banyak diamnya.
Obrolan mereka juga bermacam-macam, si puan yang gemar bermain game dan punya ketertarikan tinggi terhadap segala hal berbau jepang, si tuan pula senang berbagi cerita soal permasalahan politik di portal berita hingga yang paling berbanding terbalik ialah bahasan soal acara televisi yang kebanyakan bergenre sitkom kesukaannya.
Tipikal hubungan yang dijaga dengan frekuensi komunikasi relatif rendah, lebih suka membunuh waktu dengan melakukan banyak hal bersama. Bagi mereka sebuah hubungan itu perlu banyak energi dan mereka terlalu malas untuk itu.
Untuk apa repot-repot sibuk mempercayai cinta apabila kehadiran satu sama lain begitu mudah dan terasa nyaman untuk dijalani. Begini saja. Selamanya.
Serupa tapi tak sama. Tak menyatu tapi berjalan beriringan.
Bahasa kasih antara mereka tak memakan energi yang banyak, cukup dengan presensi satu sama lain maka tanpa mereka sadari ada tahayul yang mengiringi mereka, biasa disebut cinta.
Rara terlanjur nyaman akan eksistensi Aji yang tak pernah absen dari kehidupannya itu. Rasanya ia ingin memiliki Aji selamanya.
Sampai suatu malam di kamar yang remang-remang, pada sela-sela konsentrasi menonton anime di balik selimut. “Ji, kalau sampai umur 30 kita berdua sama-sama belum ada yang menikah. Lo harus menikahi gue dan gue akan menikah sama lo. Kita wajib menikah. Gue gak mau sama yang lain.”
Aji hanya tersedak dan sudut bibirnya mulai naik.
“Gue gak bercanda?!”
“Shhh, iya, iya. Lanjut nontonnya, yuk!”
Aji menarik kepala Rara untuk bersandar pada bahunya. Rara turut mengistirahatkan kepala disana walau alisnya berkerut kebingungan.
Sayang sekali tidak ada saksi bagaimana senyum Aji merekah lebar. Tapi, dalam suasana seintens itu Rara masih bisa mendengar suara dentuman jantung yang sangat kencang. Entah itu jantung Aji atau Rara. Mereka yang tahu.
Kalau definisi cinta itu tidak masuk akal, bukankah artinya sama saja dengan apa yang Aji dan Rara parodikan saat ini?
Tidak masuk akal.
Sayangnya, ada satu manusia yang berharap, sangat. Sementara yang satunya sedang mencari cara untuk kabur dari perangkap yang ia pelihara sendiri.
Tokyo, Japan
Aji berlari sambil sesekali meniup kepalan tangannya sampai kemudian menimbulkan kepulan asap. Dari jauh ia bisa melihat Rara yang sudah terpingkal-pingkal memukul paha sambil menunjuk ke arah Aji, entah apa yang ia tertawakan. Aji tidak mau tahu. Tapi, Aji tahu pasti bahwa pemandangan yang netranya tangkap saat ini adalah panorama favoritnya.
“Hahaha… aduh. Aji, Aji. Jangan lari-lari nanti jatuh!” teriak Rara.
Tak ingin merugi, Rara buru-buru mengeluarkan gawainya dan otomatis menekan tombol rekam demi mengabadikan momen luntang-lantung sahabatnya, Aji.
“Ra! Udah lah gak perlu video segala!”
“Dokumentasi pribadi, Ji. Hahaha… coba melet, deh! Sini ke arah kamera! GOBLOK! HAHAHAHA!”
Mungkin dunia sebentar lagi akan hancur. Pernyataan itu rasanya tidak berlebihan apabila melihat Aji yang biasanya kaku dan serius kini berlarian sambil menjulurkan lidah dan menggoyangkan jarinya mengacungkan tanda V turuti perintah sahabat perempuannya yang sebenarnya sudah setengah gila.
“Udah… Please, Udahan! Perut gue keram capek ketawa… Hahaha… Aji!” Rara terbahak sambil jongkok memegangi perutnya pertanda dirinya sudah tidak bisa menahan geli dan dialog barusan bermaksud serius.
“Hahaha… Ra. Hadeh, sinian deh duduknya.”
Aji dan Rara jatuh terduduk di bangku kayu dan bahu mereka bersandar pada pagar tembok di sisi sebelah kanan gedung coffee shop yang baru saja mereka singgahi.
“Apa gak mending kita masuk ke dalam lagi aja, Ji?”
“Kita udah duduk 3 jam disana dan cuma pesan satu menu bagi dua. Teru