love grows

yongisol

Semua bermula dari senin pagi yang tergesa-gesa di antara dua rumah yang saling berseberangan. Mata Yonghoon yang berbinar-binar antusias bertubrukan dengan tatapan sinis setengah ngantuk milik Leesol. Yonghoon dan Leesol kecil dalam balutan seragam putih merah. Yonghoon menggendong ransel di punggung kemudian membusungkan dada penuh semangat kontradiktif dengan Leesol bersama bahu lesu membuat tasnya merosot jatuh ke aspal. “Rambut kamu masih berantakan, tuh! Gak mandi ya?” ledek Younghoon sambil tangannya kipas-kipas hidung. Leesol mendongak ke udara lalu meniup anak-anak rambut yang mencuat sekenanya. Lalu matanya balas balik memindai Yonghoon dari ujung kepala hingga ujung kaki semuanya serba licin dan rapi, terlebih bibir basahnya menetes liur-liur yang gak bisa dikontrol. “Lap dulu itu iler kamu, masih suka ngeces, ya?” “Aku gak ngeces. Aku ini dalam masa pertumbuhan gigi!” Giliran Yonghoon melirik bibir beceknya untuk segera di lap menggunakan celemek pemberian mama yang bertengger di lehernya. Leesol garuk-garuk kepala sambil menguap, “Iya, tetap ileran.” Kendati begitu, Yonghoon dan Leesol tetap berangkat bersama ke sekolah, soalnya ibu mereka sepakat untuk menyekolahkan kedua anaknya di sekolah yang sama, supaya saling jaga. Lalu, juga sama pada seragam putih biru. Yonghoon menjemput Leesol karena lama gak nongol padahal hari sudah mulai siang dan ternyata yang dicari masih mengikat tali sepatu di depan pintu rumahnya. “Sepatu baru?” tanya Yonghoon ingin tahu. Leesol menjawab dengan aksi. Usai tali sepatunya tersimpul rapi, tiba-tiba dia melompat berdiri dari jongkoknya dan memajukan satu kaki ke arah Yonghoon dengan tujuan menyombongkan sepatu baru miliknya. “Oooh, cakep, cakep.” ujar Yonghoon sambil angguk-angguk kepala mengakui. Mendengar pujian itu Leesol lantas berkacak pinggang, “Iya, dong.” “Hehe… kalau gitu…” Leesol yakin senyuman yang mendadak muncul di wajah Yonghoon bukanlah pertanda baik. “Boleh diinjak, ya!” “Yonghoon!” “Ciye, sepatu baru. Sepatu baru. Sepatu baru. Sepatu baru.” Setiap kata ‘Sepatu Baru’ ada satu pijakan dari Yonghoon dan Leesol terus berusaha menghindar namun gagal hasilnya kaki Leesol mulai kebas. “Aduh! Aw! AW?!” dasarnya pergerakan Leesol lamban dan reaksinya gitu-gitu aja. Yonghoon jadi semakin semangat mengusili. Dan, ya, sepatu baru Leesol kini penuh bercak tapak sepatu dekil Yonghoon. Yonghoon dan Leesol berlari kejar-kejaran keluar komplek menyusul angkot ke sekolah. Waktu terus berlalu, langkah masih seiring, hingga tahun ketiga bangku SMA. Menurut Leesol, Yonghoon mulai banyak berubah, tidak ada lagi iler di sudut bibirnya, garis bahu kemejanya sudah tidak kedodoran, dan yang paling mencolok tubuhnya kini jauh lebih tinggi dari Leesol. Entah sejak kapan dia kian menjulang, Leesol heran sendiri. “Apa liat-liat, naksir?” Dari pantulan kaca spion tampak kedua alis Yonghoon bergerak naik turun menggoda Leesol. Kemudian Yonghoon terbahak melihat cara Leesol berpantomim pura-pura muntah. “Gak usah dilebih-lebihin gitu, Sol. Aku tau kamu aslinya sayang sama aku.” Sembari Yonghoon menurunkan pijakan kaki motornya mempersilakan Leesol untuk turun dari boncengan, Leesol cubit pelan lengan atas Yonghoon yang ternyata mulai berotot itu. “Aduh! Saltingnya nyubit…” “Nih.” ucap Leesol acuh tak acuh sembari menyodorkan helm yang segera di sambut Yonghoon panik. Leesol memang jutek, tapi rasanya hari ini jauh lebih parah dari biasanya, marah-marah melulu. “Galak amat. Kamu lagi marah ya, Sol?” Bukannya menjawab, Leesol melenggang pergi meninggalkan Yonghoon kebingungan di teras rumahnya. Sedikit kilas balik, sejak memasuki putih abu, Yonghoon jadi banyak kegiatan baik akademik maupun non akademik. Yonghoon senang bersosialisasi dia salurkan energinya dengan ikut organisasi, kegemarannya akan musik mengharuskannya untuk latihan bernyanyi setiap hari senin dan selasa tidak boleh dilewatkan karena Yonghoon akan ikut lomba mewakili nama sekolah, dan sebagai anak yang aktif Yonghoon suka bermain basket setiap dua kali seminggu yaitu jumat dan sabtu jadwal latihan ekstrakurikuler basket. Seminggu penuh! Tapi Yonghoon tidak melakukannya sendirian karena selalu ada Leesol yang menemani. Leesol sendiri ketertarikannya hanya satu yaitu berkonsentrasi pada buku komik kesukaan, jadi tidak ada kegiatan yang bisa dia lakukan setiap menunggu Yonghoon selesai dengan sibuknya selain baca komik. Leesol suka baca komik ditemani Yonghoon. Jadi, setiap kegiatan Yonghoon akan selalu ada Leesol terduduk membungkuk fokus membaca komik yang menutup hampir seluruh wajahnya. Leesol membaca di tempat-tempat yang masih dalam jangkauan Yonghoon; sudut ruangan OSIS, pohon di pinggir lapangan basket, koridor ruangan musik. Pokoknya posisi dimana masing-masing sudut mata Yonghoon dan Leesol harus bisa saling bertemu. Terbiasa ada untuk satu sama lain, saling jaga dan saling percaya menjadi landasan otomatisasi kebersamaan Yonghoon dan Leesol. Jadi berdasarkan dugaan Yonghoon, mungkin Leesol menemukan titik marahnya karena lelah mengalah dan menanti setiap hari. Diam-diam Yonghoon mengikuti langkah si perempuan yang parasnya menyerupai kucing itu dari belakang. Rambut hitam Leesol panjangnya sudah menyentuh pinggang, kemeja dan rok abu yang Leesol kenakan kian ketat tiap tahunnya, lalu saat hendak menaiki tangga menuju kamarnya Leesol menoleh sejenak, “Aku mau baca komik di balkon.” Yonghoon menganga terdistraksi oleh bibir merah yang sudah di poles gincu itu. Leesol tumbuh jadi gadis yang cantik. Diluar kegiatan sekolah, biasanya dua anak manusia yang saling mengasihi itu mengisi hari-hari dengan bersantai di balkon kamar Leesol yang letaknya di lantai dua. Ada pohon belimbing besar yang lagi berbuah menjulang tinggi hingga ranting dan daunnya menyentuh atap jadi peneduh. Ada bangku kayu dan bantal-bantal kecil menambah kesan nyaman. Cepat-cepat Yonghoon mengejar langkah Leesol yang menghentak-hentak, lalu ikut membanting tas ke atas kasur, kemudian berdiri mematung berhadapan dengan Leesol yang tau-tau sudah duduk manis menguasai bangku kayu panjang itu sendirian. Kebiasaan Leesol kalau lagi baca buku betul-betul menutupi seluruh wajah dan dia akan tenggelam dalam sunyi menikmati bacaannya. Leesol cuma baca buku komik tapi bagi Yonghoon rasanya seperti ada tembok yang berdiri tepat di depan wajahnya. Yonghoon bersandar pada railing balkon sambil memasukkan kedua tangannya di dalam saku celana lalu matanya sibuk menghakimi Leesol yang tampak tidak nyaman bolak-balik kertas buku komik favoritnya, ada yang janggal. “Marah, ya?” tanya Yonghoon lagi menguji kesabaran Leesol supaya cepat mendidih, supaya cepat meledak, supaya Yonghoon bisa dengar langsung spesifiknya Leesol marah karena apa. Sementara yang ditanya hanya mengangkat kedua bahunya cuek. Diam-diam Yonghoon mengamati sampul buku komik yang dibaca Leesol, dibacanya spontan “Kimi Ni Todoke.” Pelafalannya yang kaku membuat Leesol melirik dari balik komik. Yonghoon terkikik melihat reaksi dahi mengkerut Leesol yang jelas tersinggung dengan artikulasi Yonghoon. “Pipinya merah malu-malu.” tunjuk Yonghoon mengalihkan perhatian Leesol. Linglung, Leesol bolak-balik memutar buku komiknya memeriksa sampul depan dan belakang lalu berakhir dengan meraba-raba pipinya sendiri seolah memastikan siapa pemilik pipi merah malu-malu yang disebut Yonghoon. “Hahaha… maksud aku… itu orang yang di sampul buku komik. Bukan kamunya…” Picingan sinis Leesol otomatis memaksa Yonghoon untuk menekan gelaknya. “Iya, maaf, maaf. Lagi fokus baca adegan ciuman, ya?” “Gak ada ciuman-ciuman.” balas Leesol akhirnya, walau dengan nada jutek. Leesol tepuk-tepuk tempat kosong di sebelah kirinya memberi isyarat Yonghoon untuk berbaring. “Kamu gak capek?” Yonghoon terperangah. Leesol masih sayang Yonghoon. “Capek…” rengeknya mengayunkan kaki lemah lunglai menuju Leesol. Segera Yonghoon angkat bantalan di atas paha Leesol bergantian dengan merebahkan kepalanya di pangkuan perempuan yang menatapnya dengan pandangan nanar. “Banyak yang harus aku kejar, banyak yang harus aku pikirin, seharusnya aku gak apa-apa selama ada kamu. Tapi kamunya hari ini cuek banget. Udah gitu aku…” Ocehan Yonghoon itu sama sekali tidak digubris Leesol bahkan dia tak bergeming sedikitpun. Dibiarkan Yonghoon mengoceh goler kanan kiri di pangkuan sampai akhirnya lelah sendiri ditelan pulas. Angin sepoi-sepoi bertiup menabrak lembar buku yang Leesol baca. Pecah pula fokusnya, namun Leesol bukannya menyalahkan angin yang menekuk lengkungan halaman terakhir yang dia baca melainkan eksistensi Yonghoon di pangkuannya. “Yonghoon.” Tidak ada jawaban. “Baru lima menit gak usah pura-pura tidur.” Lagi, tidak ada jawaban. “Aku… gak marah…” cicit Leesol dengan volume suara mengecil supaya Yonghoon—kalau betulan tertidur—gak kebangun. Napas Yonghoon tampak dari bahunya yang naik turun meyakinkan Leesol bahwa Yonghoon betul terpulas. Leesol lalu tenggelam dalam kontemplasinya. Mempertimbangkan harus apa dia dengan wajah damai Yonghoon yang diam-diam ingin dia sentuh. Pada kelopak matanya yang terpejam. Lalu pada poni Yonghoon yang berterbangan memamerkan jidatnya. Lalu pada garis rahang Yonghoon yang tegas. Yonghoon tumbuh jadi pemuda dengan paras rupawan. Sampai akhirnya dorongan itu semakin kuat memerintah Leesol untuk menjamah satu titik lagi. Tekstur bibir Yonghoon persis seperti yang selama ini Leesol bayangkan, kecil-kecil kenyal menggemaskan. Lalu Yonghoon mendadak melet. “IH?! Jorok, jorok, jorok.” Leesol teriak kemudian buru-buru menyeka jarinya di kemeja putih abu Yonghoon. Pasalnya, Yonghoon yang memang pura-pura tidur itu sadar kalau dirinya sedang dijamah dan tindakan bodohnya adalah menjulurkan lidah hingga menabrak jari Leesol yang tadinya bertengger di sudut bibirnya. Yonghoon sukses tertawa terpingkal-pingkal, memegang perut, membenamkan wajah pada perut Leesol. “Kamu tuh, oon! Lagian ngapain, sih?” Jarak Yonghoon dan Leesol terlalu dekat namun yang sadar cuma Yonghoon soalnya Leesol sibuk meniup-niup jarinya, Yonghoon sendiri puas senyam-senyum memandangi Leesol dari bawah, menikmati ruang sempit yang tercipta antara mereka berdua. Menurut Yonghoon, Leesol lucu. Sorot bundar yang tajam itu tidak mengintimidasi malah memberi kesan planga-plongo buat Yonghoon gemas sendiri, sudah begitu kombinasi suara Leesol yang terbilang cukup berat untuk ukuran seorang perempuan justru berlawanan dengan raut wajah imutnya menambah satu poin menggemaskan lainnya, dan kombinasi paling aneh adalah bibirnya seringkali mencebik cemberut dibersamai dengan pribadinya yang dominan lebih lembut dan tenang. Jadi Yonghoon percaya diri kalau isengnya barusan pasti akan dimaklumi lalu begitu saja. “Maaf, aku tiba-tiba ingin sentuh aja.” ucap Leesol dengan nada lemah, kalau kata Yonghoon nada orang low cortisol. “Sentuh? Kamu sentuh bibir aku?” Yonghoon melipat tangannya di depan dada. “Ya… enggak. Iya.” “Loh? Iya atau enggak?” “Tadi anginnya kencang, bahkan halaman-halaman buku aku berhamburan, terus rambut kamu juga, jidat kamu jadi kelihatan, tapi kamu kelihatan tidurnya enak.” “Jadi kamu usap bibir aku?” “Gak di usap? Cuma sentuh. Sedikit.” “Oh, gitu.” Yonghoon angguk-angguk kepala sambil terkikik geli. “Aku udah gak fokus baca.” Yonghoon mendongak cuma demi mendapati Leesol yang buang muka. “Kenapa?” “Aku… aku kepikiran.” celingak-celinguk sambil garuk tengkuk menandakan bahwa Leesol sedang tidak nyaman. Perasaan tidak nyaman itu timbul ketika ada Yonghoon di pangkuan merupakan pertanda buruk. Yonghoon percaya diri kalau Leesol nyamannya cuma sama Yonghoon. Leesol kenapa? Yonghoon kemudian bangkit dari tidurnya, lalu berlutut di hadapan Leesol, kedua tangannya bertumpu pada tepi dudukan bangku mengurung tubuh Leesol. Panik, buru-buru Leesol mengangkat buku komik agar menutup wajahnya yang bingung mau dikemanakan setiap kali dia bersitatap dengan Yonghoon. Yonghoon perhatikan sampul buku komik yang menghalangi pandangannya dan terbersit sebuah ide. “Leesol.” Mendengar Yonghoon memanggilnya dengan nada penuh komando jantung Leesol jadi berdegup kencang. “Apa.” “Mau cerita kenapa Leesol marah sama Yonghoon?” Yonghoon mengenal Leesol seperti dirinya sendiri; Leesol di riuh masa kecilnya, Leesol di pijar remajanya, Leesol dengan proses pendewasaannya, Leesol pada setiap lengkung waktunya. Berbekal itu maka praduga Yonghoon soal Leesol tidak mungkin salah. Yonghoon tahu pasti. Ketika Leesol bersuara dari balik buku komiknya, “Memangnya boleh aku marah karena cemburu sama jadwal padat kamu? Marah karena semua waktu kamu bukan milik aku? Marah karena ingin memiliki kamu?” Yonghoon tahu pasti. Selama ini Yonghoon tidak salah menafsirkan, bahwa perasaan di antara mereka bukanlah platonik. Yonghoon tahu pasti. Lekas jemari Yonghoon ikut menggenggam erat sisi buku berlawan dari yang di genggam Leesol. Seperti gerakan membuka pintu, Yonghoon menyelinap masuk dalam persembunyian Leesol, menjemput rasa khawatirnya, mempersempit jarak tubuhnya lebih dekat dengan Leesol, lalu menempelkan kedua kening mereka. Kulit bertemu kulit, napas beradu dengan napas, dan perlahan Yonghoon memejamkan matanya, Leesol patuh mengikuti. Satu detik. Napas Yonghoon terdengar jelas amat tidak beraturan mengganggu pendengaran Leesol. Dua detik. Aroma tubuh Yonghoon menyeruak masuk penciuman Leesol merusak perhatiannya. Tiga detik. Lama sungguh lama, rasanya seperti ada yang mencekik leher Leesol seiring dirinya yang menahan napas. Sampai Yonghoon menarik napas panjang sebelum akhirnya berbisik, “Boleh, Sol. Semuanya marah, cemburu, kesal. Kamu berhak atas perasaan kamu untuk aku.” Suara Yonghoon bergetar. Leesol beranikan diri untuk membuka mata perlahan menemukan hidung Yonghoon yang bersinggungan pada hidungnya pada jarak yang hanya sejengkal pertukaran deru napas. Pelan bola mata Leesol bergerak ingin sekali saja menatap tegak lurus menemukan kelopak dan bulu mata Yonghoon yang terpejam terus gemetaran. “Yonghoon…” satu tangan Leesol yang masih bebas kini meremas rok sekolahnya, tak kuat menahan rasa gugup yang menerpa. Yonghoon juga sama, walau matanya terpejam tapi jantungnya terus meletup dan seperti ada suara dengungan yang mengitari isi perutnya. Apalagi saat membuka mata ada wajah Leesol yang bersentuhan dengan wajahnya membuat Yonghoon merasa mual. “Boleh, Sol. Semua waktu aku milik kamu. Aku milik kamu.” Leesol terbelalak melihat ketulusan Yonghoon pada setiap baitnya. “Yonghoon milik Leesol.” Ketika gerakan kelopak mata yang sudah lebih stabil itu membuka dan menatap Leesol secara terang-terangan. Mata Yonghoon bercahaya, hidung Yonghoon menggesek hidung Leesol dengan gemas meminta jawaban, lalu ditutup dengan sebuah anggukan tipis yang hampir mempertemukan garis bibir mereka. “Leesol boleh peluk Yonghoon?” Yonghoon membuka kedua tangannya lalu tersenyum, “Boleh.” Leesol membenamkan kepala di ceruk leher Yonghoon, mengistirahatkan ragu dan khawatir yang belakangan menghantuinya, membiarkan Yonghoon membasuh segala marah dan cemburu dengan kasih dan sayang. “Mulai hari ini akan ada sesi khusus Leesol’s Time di sela-sela jadwal aku. Waktu dan kegiatannya terserah kamu. Kegiatannya boleh sentuh bibir, sentuh wajah, peluk-peluk, cium-cium…” Angin yang bertiup dan daun-daun pohon belimbing yang berguguran menjadi saksi, Yonghoon dan Leesol yang saling mencintai.

Ilustrasi:

nje

Barangkali dipermainkan brondong akal-akalan wahana semesta yang sifatnya tidak mudah ditebak itu adalah alternatif untuk meluruhkan lelah dan melarutkan resah maka jadilah. Felicia sebelumnya tidak pernah merasa segelisah ini saat melihat sekelompok anak magang berjalan di sekitar kubikelnya. Tapi berbeda ketika matanya menangkap sosok yang paling sumringah di antaranya yang belakangan diketahui bernama Josiah. Sebagai karyawan magang yang masih meraba-raba cara beradaptasi Josiah masuk dalam kategori yang secara natural menarik atensi. Josiah itu tipe orang yang gak perlu usaha keras untuk menarik perhatian sekitarnya. Setiap langkahnya selalu dia sisipkan senyum sambil mengangkat alis menyapa semua orang yang berpapasan dengannya. Pokoknya dalam radius kurang dari satu meter dalam penglihatan Josiah harus dia sapa dan herannya lagi kebanyakan sudah dia kenal. Belum lagi setiap kata yang terucap tak pernah ketinggalan bumbu gurauan rayuan. Kesimpulannya Josiah adalah seramah-ramahnya manusia. Kendati reputasinya, eksistensi Josiah bukannya penting untuk Felicia. Namun Josiah paling jago melangkahi hipotesis sampai ambruk. Presensi Josiah begitu mencolok hingga tak satu orang pun luput dari radarnya, termasuk Felicia, terutama Felicia. Kilas balik tiga bulan lalu pada agenda mingguan minum kopi hingga dini hari jadi momentum dimana Felicia yang kepalanya sudah hampir jatuh terjerembab menyentuh kerikil coffee shop diselamatkan oleh Josiah bersama senyumannya. “Loh? Udah sebulan magang di tempat lo bahkan wara-wiri keahlian doi. Beneran baru kenal sekarang? Sebelum gue ajak nongkrong kesini juga lo pada gak tahu satu sama lain? Masa masih gak kenal Josiah, Fel?” Sabian dengan wajah sejuta tanya itu mangap selebar mungkin sambil mengerjapkan matanya tak percaya. Belum lagi yang lain jadi kompor. “Yakali satu kantor tapi gak saling kenal.” “Pasti udah kenal cuma cuek aja.” “Kenalan dulu lo berdua, buru.” Sementara yang ditanya tanpa melirik lawan bicara hanya menjawab singkat, “Berisik.” Felicia bukannya tidak menyukai Josiah yang suka menjembatani senyum. Justru baik melihat seseorang yang membuncah energinya kemudian mengundang sekitarnya untuk ikut tertawa. Josiah si paling mahir. Cuma… selama gak banyak bersinggungan untuk mengenal lebih jauh dari sekedar rekan satu kantor itu rasanya gak perlu-perlu amat, kan? “Tak kenal maka tak sayang. Jadi… boleh kenalan dulu supaya bisa saling sayang?” Suara nyaring berkumandang memicu sorot mata tertuju pada Josiah dan perempuan yang ingin dia curi juga perhatiannya yang kini menunduk menahan malu. Sumpah, dialog yang mengundang mual untuk keluar mentah dari mulut. Betul-betul udah siap nyari kresek buat segera memuntahkan isi perut. Berakhir sudah, jadi beda ceritanya ketika Felicia mendongak menyatukan pandangan dengan sumber suara dan mendapati laki-laki berhoodie hitam itu memberikan senyuman lebar serta tawa kecil mengikuti. Seharusnya kopi tidak mengandung alkohol melainkan kafein, pun kuantitas kopi yang diteguk Felicia semalam suntuk bukan nilai yang mampu memicu halusinasi. Namun, cara Josiah tersenyum hangat sambil mendekatkan wajah dan menarik telapak tangan Felicia diperparah dengan dirinya yang mulai berbisik kecil, “Nama aku Josiah, Kak. Salam kenal, ya.” Hampir saja Felicia menampar pipi. Barusan itu mimpi, ya? Apapun yang Felicia lihat barusan akan jadi memori paling unik karena rasanya gak pernah sefokus ini memandangi sosok tengil yang cengengesan memiringkan kepala, menaikkan alis, dan bola matanya berbinar penuh cahaya. Jadi begini rasanya dipermainkan brondong. “Kenapa lo bisik-bisik?” jawab Felicia sewot sambil menarik lepas paksa tangannya dari jabatan Josiah. Josiah masih cengar-cengir angkat bahu, “Harus kecil-kecil, takut Kakak malu.” “Kenapa harus malu? Kenalan doang.” Dalam hitungan sekon Felicia akan menyesali pertanyaan yang ia ajukan. “Ooh,” senyum kemenangan terpatri di wajah Josiah. “Kakak mau disayang besar-besaran ya?” Gila. Gila. Gila. Satu-satunya respon yang mengudara hanyalah suasana hening seketika. Ya, lagian. Asbun banget! Sementara Felicia sudah terlanjur mendadak cengo keheranan, Josiah celingak-celinguk kiri dan kanan memandangi teman-teman satu meja yang sudah tidak lagi fokus pada gawai masing-masing melainkan saling bertatap mata ingin tahu. Maka sekali lagi Josiah ulurkan tangannya. “Hehehehe… Kalau gitu, salam kenal Kakak sayang.” Yaudah kelar. Meledaklah satu tongkrongan tertawa dan mulai bersorak. Ada juga yang bersiul. Parah lagi mulai bermain gitar sambil bernyanyi nada asal-asalan dengan nama Josiah dan Felicia jadi lirik lagu cinta. Tak ketinggalan Josiah memimpin menepuk meja seolah main gendang. Felicia tidak bisa apa-apa selain membenamkan wajah di balik layar laptop berharap semu merahnya tersembunyi. Hari pertama dipermainkan brondong. Apakah semesta atau Sabian—adik tingkat Felicia yang tanpa sengaja memperkenalkan Josiah sebagai bentuk formalitas karena kebetulan berpapasan di kedai kopi. Atau mungkin salah diri sendiri. Hari berganti hari hadirnya berkala jadi setiap hari, yang tadinya tumbuh melalui sela-sela jadi mengambil alih segala perhatian, bukannya puitis dan penuh hati-hati, tapi berbentuk tindakan-tindakan sembrono yang tidak lagi terkendali. Pesan-pesan singkat. Replied to your Story Josiah 23.15 Malam amat lemburnya, Kak? Replied to your Story Josiah 06.00 Et siapa tuh? Mantan lo ya, Kak? Gantengan juga gua kemana-mana. Replied to your Story Josiah 06.15 Gue kenal tuh tempatnya. Sering sarapan di situ juga? Jangan lupa cobain bubur ayam yang di sebelahnya juga enak asli. Josiah masih tidak lebih dari pegawai magang yang umurnya lebih muda dan tindakannya sok tahu. Josiah masih tidak lebih dari si manusia adaptif yang senang interaksi. Lalu pindah ke aplikasi WhatsApp beralasan supaya ada yang ngingetin bangun pagi. Josiah 06.30 Pagi cantik! Semangat menjalani hari. Josiah 11.26 Jujur meriang. Merindukan kasih sayang. Hingga hari menjelang malam. Josiah 14.20 Selain cantik, hari ini udah ngapain aja? Josiah 18.30 Kita searah loh. Sekalian pulang sama aku aja, Yuk? Hehe. Kiriman makanan. Josiah 19.30 GoFood atas nama Felicia. Alamat sesuai titik, ya? Aku otw apart Kakak. Aku tau Kakak suka milkbun :p Kiriman bunga. Josiah 12.12 Kak i stumbled upon this sunflower and it reminds me of you. Kiriman foto-foto berbagai ekspresi. Josiah 08.35 Diliat-liat gue cakep juga dah. Ketik 1 apabila setuju. Sampai Josiah puas menguasai dunia Felicia dengan hadirnya. Josiah 17.00 Kak, aku udah di parkiran. Tidak hanya sebatas interaksi daring, dirinya mulai bermunculan dimana-mana. Sehingga kemudian ada banyak tahapan realisasi yang jadi titik balik kesadaran bahwa menghadapi Josiah itu tidak mudah. Rutinitas mencari fleksibilitas waktu untuk bertemu menjadi pertemuan-pertemuan selanjutnya yang secara bertahap terkumpul jadi Josiah menemukan Felicia yang pasrah saja dengan kedatangannya. Josiah brondong pertama Felicia dan butuh energi ekstra untuk menghadapinya. Ocehan, gurauan, rayuan, hingga kekehan ciri khas Josiah menjadi hafalan Felicia setiap harinya. Seringkali Josiah kedapatan melangkah gontai menghampiri meja kerja Felicia lalu dengan enteng nyeletuk, “Serius amat, cantik.” Buyar sudah fokus satu ruangan menjadi tatapan celingak-celinguk penuh asumsi. Bukannya merasa bersalah, Josiah justru cengengesan sambil garuk kepala. “Ya gimana? Emang cantik.” Menurut Felicia sejauh ini tindakan paling tepat untuk menghadapi manusia pancaroba seperti Josia tidak lain dan tidak bukan, cuekin aja. Lagi-lagi bukan Josiah namanya kalau tidak penuh dengan kejutan. “Nanti pulangnya bareng, kan?” Lantas seisi kantor penuh bisik-bisik, ada yang mengacungi jempol mengakui hebat spontanitas Josiah, ada pula yang berseru mendukung keberlanjutan apapun yang sedang diusahakan Josiah. Josiah itu begitu berdeterminasi menunjukkan pada dunia apa-apa yang ia rasa tentang Felicia hingga alhasil menciptakan turbulensi emosi. Josiah itu seolah ingin berteriak sampai seluruh kuping tiap manusia dapat mendengar, “Gue naksir sama lo anjir, Kak?” Sementara Felicia selalu butuh waktu lebih banyak untuk mengolah rasa. Suatu waktu lelah dan resah kembali hadir saat saklar dimatikan. Berbanding terbalik dengan Josiah, akan selalu ada waktu dimana Felicia untuk nyala dan redup, datang dan pergi, terbit dan tenggelam. Terhadap siapapun tanpa terkecuali. Bila waktunya tiba Josiah mengejutkan Felicia dengan kemahirannya untuk selalu ada kapanpun, dimanapun, dan dalam situasi apapun. Josiah mengerti dan bersedia untuk mengambill satu langkah mundur memberikan spasi untuk Felicia tarik napas dalam-dalam. Namun yang kita bicarakan ini adalah Josiah dan sejuta caranya untuk berkoneksi. “Kemana aja seminggu chat gue gak dibales?” Raut wajah Josiah jelas jengkel namun langkahnya tidak berhenti mengekori kemanapun Felicia mengayunkan kaki, Josiah haus afeksi. “Satu hari dicuekin, aku gak selera makan. Dua hari dikacangin, aku susah tidur. Tiga hari dianggurin, pencernaan aku memburuk. Memasuki minggu pertama rasanya mau aku hancurin aja hape aku, Kak.” Felicia tertawa geli dibuatnya. Josiah tahu bahwa rewelnya ampuh mengendalikan hati Felicia yang tadinya sengaja dibekukan jadi meleleh karena hangatnya. Mungkin caranya berlebihan penuh gurau manja tapi afirmasi yang terselip rupanya tulus dan Felicia bisa merasakan itu. “Buat apa rajin isi kuota kalau target utamanya aja gak respon, Kak. Mending aku daftar jadi CS Rupiah Cepat supaya ada yang aku kabarin.” “Jangan, dong. Kabarin aku aja.” Josiah terdiam mendengar tanggapan perempuan sumber nestapanya. Pasalnya, untuk pertama kali Felicia memberi respon yang bukan penolakan. Maka tanpa berlama-lama takut buang kesempatan, Josiah menyodorkan jari kelingking yang menghadirkan raut keheranan pada Felicia, sekali lagi Josiah mengayunkan kelingkingnya lalu Felicia mau tak mau menuruti maunya hingga kelingking mereka saling bertaut. "TENANG ADA GUA." Yaelah. “Gak ada dialog lain apa?” “Hmm, apa ya.” Josiah berkacak pinggang sembari matanya mengamati tautan kelingking yang ada di antara dia dan si perempuan pengelak. Josiah tersenyum menimpali, “Tetap sama. Ada aku disini.” Josiah tahu cara mengambil jarak, juga mengambil hati. “Cara kakak menyayangi dengan sunyi dan hilang. Cara aku menyayangi dengan hadir dan menemani.” Josiah pandai menyelipkan beraninya di hati si penakut. Hingga kemudian Felicia benar-benar jatuh dalam permainan brondong. Dan ternyata Felicia cukup toleran. “Kamu sakit? Udah minum obat? Aku kesana bawain bubur ya?” “Ya, Tuhan. Apakah aku harus sakit setiap hari biar diperhatiin sama Kakak?” “Jangan, dong.” :( “Tambah demam kayaknya aku, Kak.” “Iya, iya. Aku kesana maleman ya.” “Ini sakit, Kak. Sebelah sini. Harus dicium biar sembuh.” “Ada kedai kopi baru buka searah kosan aku, Kak.” “Oh, ya? Menu matcha-nya enak gak?” “Gak tau. Belum coba.” “Oh.” “Tapi dengar-dengar banyak diperbincangkan alias hits abis.” “Mau coba?” “Mau kalau Kakak mau.” “Mau.” “Yuk?” “Yuk! Sekalian mampir kosan aku mau, ya?” “Dih? Gimana ceritanya. Gak ada urusan. Dasar modus.” “Hahahaha bercanda, cantik.” “Sumpah tangan aku kram lama-lama nyetir.” “Eh, kamu capek? Aduh macet banget, sih. Mau minggir dulu? Istirahat?” “Aman. Aman. Aku cuma perlu naruh satu tangan aku disini, nih. Nah. Enakan.” “Ini orang bener-bener gak ada adabnya.” “Yah, jadi gak boleh, nih? Gandengan tangan?” “Sampai kram-nya sembuh aja.” “Gak sembuh sampe setahun.” “Sembarangan ih omongannya.” Kronologi beruntun itu seolah menyulut adrenalin Josiah terus meningkat. Secara singkat, hubungan yang asal muasalnya tidak diduga itu kian tumbuh merambat dengan tiap sulurnya dapat mencengkram kokoh karena keras kepala Josiah. Walau semua orang yang baca tahu persis bahwa Felicia punya banyak keragu-raguan akan segala sesuatu. Ia terbiasa untuk rehat dan mengambil jarak sebelum rasa lelah dan resah menelannya hidup-hidup. Jadi, menghindari hal yang menggebu-gebu adalah opsi paling aman untuk dipilih. Dari sini ambivalensi jadi cikal bakal tolak ukur yang membangkitkan denial. Jalan Sudirman di jam pulang kantor itu bagaikan sirkuit gladiator modern alias ramai aktivitas lalu-lalang. Melintasi gedung-gedung tinggi dengan bendera one piece berkibar, pedagang kaki lima dengan donat andalannya, dan beberapa pengendara motor saling balap menghindari lampu merah, setiap komponennya berseliweran mencari celah tak lupa ribut klakson bersahutan jadi iring-iringan. Walau situasi semrawutan, gak masalah soalnya di samping Josiah ada Felicia yang duduk manis, matanya tertuju ke luar jendela, memandang senja yang mulai merona. Lalu Josiah kembali menggerakkan stir pelan-pelan. Giliran Felicia diam-diam mencuri pandang ke arah Josiah yang sedang berkonsentrasi penuh. Pemandangan Josiah dalam berbagai versi dari yang cuma pakai hoodie dan celana pendek, atau bahkan piyama yang atas dan bawahannya tidak nyambung sudah jadi makanan sehari-hari Felicia. Namun, melihat Josiah dengan kemeja putih rapi dan lanyard menggantung pada lehernya selalu jadi favorit. Sadar sedang dipindai dengan tatapan menghakimi, sorot mata penuh jenaka itu mulai memandangnya terang-terangan, sampai setir dan jalan di depan sana pun dicuekin. Setelan fundamental dibersamai senyuman terukir di wajahnya terus direkam Felicia di kepala soalnya istimewa. Bagi Felicia, Josiah istimewa. Ah, memang walau karakternya yang nyentrik dan memikat tapi pada dasarnya tetap kerlingan mata bersama senyum lebar itu alasan utama Felicia terpukau sampai detik ini. “Udah naksir aku belum?” celetuk yang dipuja. “Fokus nyetir aja, Nje.” Nje. Panggilan sayang yang kini sudah biasa digaungkan tanpa ada embel-embel godaan usil “Memangnya beneran sayang?” mengikuti. Saking sudah terbiasanya. “Kenapa lihat-lihat? Cantik, ya?” Basa-basi yang basi. Habisnya Felicia gak tahu harus bereaksi apa selain memanipulasi supaya rasa malu tidak perlu ditanggung sendiri. “Cantik.” Semakin parah, brondong tengil itu cepat mengangguk kepala, sementara Felicia langsung buang muka takut ketangkap salah tingkah. “Stop godain aku.” “Aku cuma bilang cantik.” “Ya, berhenti.” “Yaudah coba kakak duluan yang berhenti cantiknya baru aku bisa berhenti godainnya. Bisa gak? Gak bisa, kan?” “Nje…” Muak, Felicia memandangi pria di balik kemudi dengan tatapan horror dan dia tempeleng jidatnya supaya tegak lurus ke depan. Josiah terkekeh lantas mengusap puncak kepala Felicia singkat. Josiah tak sanggup lagi menahan rasa gemas melihat si dia di sebelah berusaha kipas-kipas wajahnya yang memerah, begitu manis. “Gemasnya pengen aku cium.” Belum selesai dengan gugup salah tingkah dipermainkan Josiah, Felicia sudah hampir kehilangan nyawa akibat napas yang tercekat sekelebat. Felicia mengedipkan mata repetitif sambil berusaha berpikir hal yang selain bibir Josiah menyesap bibirnya. Cepat sekali suasana yang tadinya ribut canda tawa berubah jadi hening. Menyadari sikapnya yang sembarangan Josiah panik melambaikan tangannya lalu segera menyanggah, “Maaf, maaf. Gak maksud serius. Please jangan terlalu dipikirin.” Ingin rasanya Josiah minta maaf dengan memandang langsung mata perempuan yang sedang dirundung ragu itu namun apa daya kemudi tak bisa lepas dari perhatian. Anggukan kepala Felicia meyakinkan Josiah supaya kembali fokus pada geraknya. Kemudian keduanya tenggelam dalam kontemplasi masing-masing. Josiah bersama sesalnya yang acap kali enteng tanpa pikir panjang. Felicia bersama pertimbangannya untuk mengambil satu langkah mundur. Seolah mendukung situasi jadi lebih buruk lagi, langit kini semakin gelap cahaya pun pelan-pelan terserap, titik-titik air mulai berjatuhan sebelum kemudian terberai gerakan wiper yang dinyalakan Josiah. Suasana berangsur sunyi, atmosfer berubah jadi dingin. Tak tahan lagi, Josiah berusaha memecah keheningan. “Kakak.” “Iya, Nje.” balas Felicia cepat. “Panggilan sayang itu lagi.” Josiah memijat keningnya, “Tiap lo panggil Nje rasanya kerongkongan gue mendadak kering, Kak.” Lagi-lagi suasana kembali sunyi. Tidak pernah ada dibenak satu sama lain bahwa akan ada masanya mereka berargumentasi perihal pelabelan rutinitas. Pasalnya, Josiah yang terbiasa mendeklarasikan rasa dan Felicia yang terbiasa menghindari apa yang harus dirasa itu justru kini berangsur tidak tahu bagaimana harus memposisikan diri dalam teritori hati timbal balik. “Kak.” Josiah berdehem sebelum melanjutkan, “Sedunia juga udah tahu soal perasaan aku untuk Kakak.” Josiah tarik nafas lagi, “Maaf udah bercanda cium-cium. Maaf kalau ternyata aku beneran sesayang itu, sesuka itu, senaksir itu, sampai punya pikiran buat cium Kakak. Maaf.” Alih-alih menjawab, Felicia memutar bola matanya sarkastik. Josiah mencengkram setir, masih dengan tatapan tegak lurus pada aspal, dia melanjutkan, “Aku suka. Aku sayang.” Felicia punya tendensi untuk memikirkan kilas balik pokok gagasan tentang Josiah poin apa-apa saja yang mengharuskan Felicia untuk menjadi berani untuk maju satu langkah. Mungkin lewat senyum yang diberikan cuma-cuma. Mungkin lewat keberadaannya dimana-mana. Mungkin lewat kata-kata yang jaminan tulusnya dibuktikan tindakan jua. Pokok utamanya adalah karena Josiah ada untuk Felicia. “Aku juga suka…” Josiah menahan napas. “Aku suka punya kamu. Aku suka punya Nje yang senyumnya, tawanya, bahagianya, sayangnya yang semuanya buat nular. Aku pun rasain hal yang sama. Aku suka.” Lalu tangan Josiah yang satunya lagi meraih tangan Felicia untuk di genggam. “Tapi aku takut ada yang berubah, ada yang hancur, ada yang menimbulkan kecewa. Dan kesimpulan kalau aku gak pantas untuk cinta adalah hal terakhir yang aku mau validasi. Apalagi cinta dari seseorang setulus kamu. Terutama untuk mencintai orang sebaik kamu.” Josiah berdecak kesal. Josiah menggeram frustasi, “Kakak sayang sama aku?” Felicia mendongak dari tunduknya mengumpulkan berani untuk memandang raut wajah mendamba Josiah. “Kakak, sayang?” Anggukan lesu Felicia menjadi pereda kegaduhan jantung Josiah yang berdetak kencang. “Dengar aku,” Kemudian Josiah berbisik dengan suara yang berat dan dalam mengimplikasi ketenangan. "You don’t have to have it all figured out. You don’t need to be anything more than who you are. Just let me walk through it with you. Aku kan selalu disini, gak kemana-mana. Aku, Kamu, Kita. Sama-sama.” Josiah melirik lampu merah. Banting rem tangan. Beralih memandang Felicia dengan seksama dan dalam bisik penuh depresi, “God, I’m screwed.” Belum rampung argumentasi antara mereka berdua, Josiah sudah lebih dulu mengintervensi dengan menangkup kedua sisi pipi Felicia membawanya lebih dekat hingga Josiah yakin bola mata perempuan itu tidak lagi enggan memandangnya. Jarak intimasi terkikis terus hidung saling bersinggungan dan dalam waktu singkat itu baik Josiah maupun Felicia sama-sama menutup mata tanpa pergerakan besar selain mengatur napas sebagai reasurasi. Sampai akhirnya rasa hangat di bibir Felicia melebur seluruh isi kepalanya yang serabutan. Josiah melumat bibir perempuannya selagi lampu merah lalu lintas berkedip tiap detik dari angka ratusan hingga nol. Lampu yang biasanya di serapah sebab lamanya jadi hambatan kini justru jadi satu-satunya kesempatan untuk dua anak manusia menguji isi hati mereka. Josiah mengecup setiap bibir perempuannya memperdalam pagutan dan melumat dengan lembut. Menangkup kedua pipi Felicia dan mengusapnya halus dengan ibu jari. Kian intens menekan dan menghisap sehingga suara bibir yang beradu jadi instrumen. Butuh waktu berlarut untuk mencapai konfrontasi diantaranya melalui Josiah yang susah payah mendamba maupun Felicia yang susah payah melawan denial. Dalam prosesnya ada rasa yang diam-diam menjalar ke seluruh syaraf. Mentransfer hangat baik secara kiasan maupun secara harfiah. Dan semuanya itu ekuivalen dengan pada kurun waktu instan, selama durasi nyala lampu merah. Semuanya akan baik-baik saja.

Tiga Serangkai

Iki Pecundang
Pertama kali bertemu Lilis, Mommy bilang untuk selalu genggam tangan Lilis erat-erat. Awalnya saya bingung, sampai waktu hujan deras dan petir merambat justru disambutnya antusias. Lilis basah kuyup, rambutnya semrawutan, kakinya banyak lumpur, sendalnya copot sebelah. Lilis anak nakal. Sejak hari itu saya senantiasa menahan, meraih, dan menggenggam erat tangannya. Misalnya waktu petir kencang menyambar, bukannya berlindung, Lilis berlari kegirangan mengejar langit. Saya kejar langkahnya, saya tarik jemarinya, saya bawa dia masuk dalam pelukan. Misalnya lagi waktu hujan sedang deras-derasnya, sebelum sempat saya kejar dia sudah lolos duluan bermandi hujan. Saya biarkan dia menikmati cipratan air yang dia injak dari kubangan, berlarian menari bersama ritme bulir yang jatuh, hingga kemudian sekiranya cukup barulah saya bawa kembali tubuhnya dalam dekapan. Sudah bukan lagi turut kata Mommy, tapi turut kata hati. Sehingga suatu kali Lilis pernah berkata, “Tuhan kirim Iki ke Lilis supaya Lilis bisa tersenyum lagi.” Lilis tertidur di atas karpet kamar saya lalu membentang tangan lebar-lebar. Tentu masih dalam kondisi basah kuyup. Kelakuannya bikin geleng kepala. Saya gelar handuk menutupi seluruh tubuhnya dalam satu gerakan. “Kenapa?” “Kenapa apanya?” “Kenapa Lilis senyumnya baru setelah ada Iki? Sebelumnya Lilis gak tersenyum?” “Senyum. Terus hilang sebentar.” Lilis tarik bagian handuk yang menutupi wajahnya sebelum kemudian kembali melanjutkan, “Tapi gak apa. Sekarang Lilis udah punya Iki. Kesayangan Lilis.” Lilis tersenyum bahkan setengah tertawa. Saya tetap tidak merasa punya pengaruh besar untuk bisa dibilang jadi sumber merekahnya senyuman indah itu. “Iki malu ya kalau Lilis bilang sayang?” “Enggak.” “Tapi muka Iki merah.” “Enggak merah.” “Kaku banget Iki. Sini ikut baring sama aku.” “Kamu lengket.” Lilis menoleh sinis. “Nye… nye… nye…” bibir bebeknya mencuat lucu. “Ayo, mandi dulu. Nanti Lilis sakit.” “Males.” “Mandi.” “Mandiin.” “Manja.” “Bodo.” “Ayo, bangkit.” “Duh, males, Ki. Lilis tiba-tiba ngantuk. Hoaahh…” “Tuh. Lilis nanti sakit. Mandi dulu baru boleh tidur. Iki kompres terus masakin bubur. Terus—repot. Semuanya jadi repot kalau Lilis sakit. Lilis mandi dulu.” “Bawel!” bantah Lilis. Saya cukup tersentak kaget, Lilis pun melemahkan suaranya. “Iki berisik. Iki pergi aja kalau gitu...” “Lilis kan tau… Iki gak bisa kalau gak ada Lilis.” Lilis lemah. Lilis akan selalu memilih mendahulukan saya atas segalanya. Ada rasa senang waktu Lilis berdiri meraih tangan saya. Ada rasa gugup waktu Lilis memeluk saya. Ada rasa malu juga geli waktu Lilis mencium pipi saya. “Iya, Lilis ada buat Iki.” Lilis adalah kiriman Tuhan yang buat saya jadi suka tersenyum. Sebagian besar hidup saya habiskan bersama Lilis. Senyum Lilis waktu turunnya hujan, senyum Lilis waktu hitung penghasilan jualan kue, senyum Lilis waktu berhasil dapatkan boneka capit, senyum Lilis waktu lulus masuk perguruan tinggi dan senyum Lilis setiap waktu bertemu dengan saya. Senyuman manis yang dihiasi dua lesung pipi di kiri dan kanan adalah hadiah paling berharga yang saya dapatkan usai berminggu-minggu terpuruk di negeri orang. “Iki!!!” teriak Lilis ceria. Dari jauh Lilis melambaikan tangannya sambil berlompat-lompat semangat. “Woi brader!!!” juga Upin. Upin itu… ya dia teman. Karena kehadirannya, jadi saya urungkan rencana untuk membalas sambutan Lilis dengan peluk dan cium. “Apa kabar Iki…” Semoga Lilis tidak kecewa tidak saya cium. “Iki… kamu kurusan… Lihat pipi gembul kucingnya mana? Oh, tangannya masih dingin kayak biasa. Iki coba berdiri tegap—tuhkaaan lemes banget kamu.” “Lah iya juga… bener dah Lis. Ho’oh setuju-setuju.” Lilis bergantian menyentuh pipi saya (Upin juga sentuh), menyentuh telapak tangan saya (Upin juga sentuh), dan menyentuh bahu saya (Upin juga sentuh). “Semuanya diam.” Perintah saya diterima Upin dan Lilis dengan baik. Keduanya mematung ditempat. “Gue capek…,” tepat di muka Upin “dan ngantuk.” juga di muka Lilis. Bukannya merespon Upin dan Lilis mengedipkan mata pelan dua atau tiga kali. “Pangsit mercon?!” “Pangsit mercon?” “Yagaksi? Ya nggak? Masa enggak? Iya gak, Lis? Capek dan ngantuk sama dengan lapar?” “Lapar! Setuju! Ayooo!” Ugh. Upin adalah masalah. Maka saya berjalan dengan diapit dua manusia berisik yang rebutan ingin gandeng tangan saya sebelah kanan. (Apa bedanya dengan tangan sebelah kiri?) “Iki mau duduk di depan apa belakang?” “Belakang aja, Ki. Kalau di depan ntar lu mual ngeliat jalan.” “Okay. Belakang. Aku bantu angkat tasnya, Ki!” Tanpa sempat sumbang sepatah katapun, Upin dan Lilis sudah ambil andil masing-masing. Saya duduk di bangku belakang, Upin dibalik setir dan Lilis mendampingi di bangku sebelahnya. Dua anak manusia itu rebutan lagu mana yang akan diputar tapi saya larang karena saya merasa pusing. Belum ada beberapa menit menutup mata, Upin dan Lilis ribut lagi perkara berapa jumlah mobil berwarna merah yang mereka jumpai di jalan soalnya hitungan mereka mulai tidak sama. Lagi-lagi saya suruh mereka diam. Sampai akhirnya, Lilis tertidur dan Upin tidak punya teman lagi untuk dijahili barulah saya bisa bernapas lega. Oh baiklah. Upin juga perlu saya ceritakan disini. Pertama kali bertemu Upin, Mas Ji bilang untuk akur-akur. Awalnya saya menghindar, Upin punya pribadi yang cenderung berisik dan senang ikut campur, sampai kehadirannya di depan pintu kamar saya setiap pagi jadi rutinitas. Dibuka dengan ajakan cari sarapan pagi, kemudian cari makan siang, hingga makan malam. Parahnya lagi saya dan Upin satu jurusan di kampus. Kartu Rencana Studi saya habis diakali Upin supaya saya dan dia punya jadwal yang persis sama. Pokoknya rasanya seharian itu belum lengkap kalau tidak ada Upin. Alasan terbesar kenapa saya tidak keberatan akan presensinya adalah karena Upin orang yang baik. Setiap campur tangannya selalu ia sisipkan kebaikan. Apabila Lilis ibarat poros tempat dunia saya bermula maka Upin adalah gravitasi yang membuatnya seimbang. Perumpamaan yang tidak berlebihan karena hati yang penuh jadi imbalan. Hari ini adalah pertama kalinya saya melihat dua poros dunia saya bertemu. Sepulang dari hari-hari kelam di Singapore, kehadiran Upin dan Lilis seperti penawar yang meredam kekacauan di kepala. “Oleh-olehnya mana, Ki?” “Upin, Iki udah bisa pulang dalam keadaan sempurna begini aja udah syukur.” “Ya tapi kan—,” “Shh, gak ada tapi-tapi. Sekarang geret kopernya ke kamar.” Tepukan Lilis pada bahu Upin hanya dibalas dengan cengiran. “Iya, siap Lilis cantik.” “Upin!” Lilis mengejar Upin yang setengah berlari karena terseok menggeret koper saya. “Kenapa lu marah sih di bilang cantik?” “Ya… karena… gak suka aja.” “Padahal emang cantik?” “Ih berhenti gak?!” “Lilis cantik. Lilis cantik. Lilis cantik.” “Upin jelek!” Namun sepertinya Upin dan Lilis tidak sekedar harmonis. Saya ketinggalan banyak cerita yang hilang dan lembarannya pudar membaur. Lantas interaksi Upin dan Lilis membangunkan sensor alam bawah sadar yang memberi sinyal untuk saya supaya tetap terjaga. Ah, tidak, tidak, yang barusan itu… pola pikir pecundang.
Upin Pecundang
Jujur, gak biasanya Iki pasang tampang penuh antusias terlebih cuma karena pertama kali mencoba makan pangsit mercon. “Iki siap?” “Bentar, Lis! Gua ngambil tisu dulu.” “Buruan Upin.” “Tisu datang! Eh tapi serius kalau lu ngerasa pedes langsung lepeh aja, Ki.” “Betul! Nih, langsung Lilis cekokin susu stroberi. Udah Lilis sediain.” “Eits, pegang yang bener atuh Lilis! Hampir tumpah.” “Eiya maap maap. Ki ayo mulai, Ki!” “Wadidaw kalau dibalik tetap Wadidaw! Lesgo brader!” “Sebentar… sebentar…,” Rizky menaruh satu jari di depan bibirnya menyuruh gua dan Lilis untuk diam. Otomatis gua dan Lilis melirik satu sama lain lalu serempak cemberut dan merunduk lesu. Wkwkwk kocak, dah. Gua sama Lilis kalau soal beginian kompak mampus. “Gue coba ya?” kata Rizky membuat gua dan Lilis kembali mengembangkan senyum. Mula-mula Rizky mengangkat satu sendok kuah pangsit mercon untuk di endus sebentar. Lalu ekspresi yang menunjukkan rasa jijik akibat bau cabai menyengat penciumannya itu cukup menggelitik gua dan Lilis sampai hampir kelepasan ketawa. Lilis memukul bahu gua terus ngebisik di telinga, “Menurut aku Iki gak bakal kuat.” Sementara yang diomongin mendadak diam. Menaikkan satu alis seolah berkata, “Seriously?” “Kokop aja kokop elah ribet amat lu cina.” Gua dorong aja tangan si Iki supaya buruan nyeruput kuah yang volumenya gak seberapa itu. Satu detik. Dua detik. “Hmm… lumayan.” “Lumayan apa? Lumayan pedes? lumayan aman?” “Lumayan enak.” Ternyata lidah Iki gak kampungan. “Nah, sekarang cobain pangsitnya sini aku potong kecil.” Lilis berinisiatif memotong pangsit ke ukuran kecil menggunakan sendok yang sudah disodorkan Iki. Giliran Lilis yang menyuap, “Aaaaa…” Iki nurut aja nganga dan melahap habis suapan dari Lilis. Yeh, giliran cewek aja nih orang cepet amat nurutnya. Dua kali kunyahan dan Iki memekik, “Akh! Ghhh—Pedeshhh…” Gelengan kepala yang cepat, kibasan di depan lidah, tangan yang mencari-cari sembarang arah buat gua dan Lilis terperanjat dari duduk masing-masing. Jadilah gua panik samber gelas susu dan buru-buru sodorin ke Iki tapi tetap kalah cepat sama tindakan Lilis yang lebih spontan. Lilis menutup mata Iki dengan telapak kirinya lalu sebelah tangannya lagi tepat di depan mulut Iki. “Lepeh aja, Ki.” Iki nurut melepeh kunyahannya bersama sisa air liur ke atas telapak tangan Lilis. Pemandangan barusan di depan muka gua beneran bikin gua cengo. Ini manusia berdua emang saling cinta sebegitunya apa begimana dah? “Jangan. Pernah. Paksa. Gue. Makan. Pangsit. Mercon. Lagi.” Iki ngomong begitu sambil banting meja pakai gelas bekas minumnya. “That's it–I'm done. No more Gacoan, Seblak, or Pangsit Mercon for me—ever." Bukannya takut, gua sama Lilis lantas terbahak melihat protes sang tuan muda. “Hahahaha…” “Hahahaha…” Gua udah jatuh rebah sambil ketawa lepas sementara Lilis ketawanya gemeteran tapi sambil menahan supaya lepehan di tangan dia gak jatuh. Lagian gimana gak ketawa ngelihat komuk Iki yang merah juga penuh keringat tapi gaya-gayaan ngamuk ngelipat tangan di depan dada segala. Perkara pangsit mercon. “Aduh konyol sumpah. Iya, iya. Gak lagi, deh. Suer!” “Loh, Iki ini gimana tangan Lilis rasanya lembab.” “Hoek! Buang aih Lilis. Dongo betul.” “Aaa… Nih, nih, Upin mau?” malah disodorin ke gua ngehe. “Awas jorok lu sumpah!” Siapa sangka gadis manis seindah Lilis kelakuannya kayak binatang. Segala dijorokin ke muka gua anjir. Kamar kosan sepetak ini mendadak jadi trek lari. Lilis larinya ngebut juga. Alhasil gua lari setengah lompat ngelangkahin berbagai macam benda di kamar Iki. “Hii… masih ada air liurnya ini.” “Awas! Tahan gak tangan lu.” “Upin bantu Lilis bersihin please?” sengaja banget. “Gua smekdon ya lu, Lilis Astuti.” “Please? Upin yang baik hati kan suka menolong? Bantuin Lilis bersihin.” “Aaaa… Enggak… Orang gila.” Sebelum Lilis sempat meraih gua maka lebih dulu gua tarik tubuhnya dari belakang dan segera gua kunci supaya dia gak bisa bergerak. “Nah loh. Gak bisa gerak kan lu.” “Hahahaha… sakit perut!” Iki cuma bisa senyum miring sambil memijat kepala. Gua ngerasa kombinasi ini gak buruk-buruk amat. Semua kekhawatiran gua pasca konflik batin soal kepergian Iki ke Singapore dibersamai kedekatan gua dengan Lilis ternyata jadi semenyenangkan ini. Pasalnya Lilis tidak lagi tenggelam dari air mata yang merindu, Rizky tidak lagi terkunci dalam kurungan yang mengekang, dan gua tidak lagi bersembunyi. Satu hari di kamar Iki tiga serangkai yang menertawakan kekonyolan remeh. Kedengarannya bagus. Tidak sampai gua menemukan tatapan kosong Iki terpatri di wajahnya. Segera gua lepas Lilis dari kungkungan. Waktu berhenti bergerak. Tiga pecundang terjebak dalam lingkar rasa dimana tak satupun berani untuk bicara.
Lilis Pecundang
Sudut pandangku tentang Iki tidak pernah berubah. Pergi dan pulangnya Iki dia tetap sama. Walau aku sempat protes karena kondisi tubuhnya yang kurang fit, tapi kalau soal sayangnya tetap sama tiada kurang. Senang rasanya waktu Iki yang lebih dulu menghubungi memberi kabar. Senang rasanya waktu Iki yang lebih dulu meminta untuk ditemui. Senang rasanya waktu Iki yang lebih dulu mengusulkan untuk mampir ke kosannya. “Jadi di Singapore ngapain aja, Ki?” Upin membanting tubuhnya ke atas kasur. Iki juga ikut. Hal yang tak biasa aku lihat karena di rumah sebelumnya kasur adalah singgasana Iki yang terbilang sakral untuk disentuh sembarangan. Aku tidak percaya ada orang lain yang mampu menerobos dinding itu. “Rapat. Salim sana-sini. Rapat lagi.” “Oh, rapat kayak rapat kerja himpunan gitu ye?” “Ya enggak lah, anjing. Mana ada rapat celana pendek, gitaran, sambil nyebat.” “Ngepet. Ngeledek gua ya lu?!” ujar Upin tak terima. Ternyata Iki kalau lagi sama temannya bisa sesantai itu. “Lis?” “Hah?” Aku terperanjat dari lamunan. “Sekali lagi lu gosok itu tangan elu bakalan bolong.” Upin seringkali mengomeli aku. “Yeh, malah bengong, sini! Tidur bertiga. Geseran sono, Ki.” “Lo yang geseran.” “Lah ini mah udah mentok. Entar si Lilis gedebag gedebug kan brabe.” “Yaudah.” Jadi aku sebelah kepala kasur, Iki di tengah, kemudian Upin di ujung sana, kami bertiga tiduran membentang horizontal di satu kasur. “Jadi…?” Lagi-lagi cuma Upin yang bisa memecah keheningan. “Bacot.” “Hehehe…,” “Ketara, Pin.” “Boleh gak, nih?” “Ya apa.” Tiada yang mengerti tektokan dialog Upin dan Iki arahnya kemana kecuali mereka sendiri. Yang jelas, Upin punya keberanian untuk mengupas satu demi satu lapisan yang membungkus Iki. “Lu dirundung keluarga lu ya, Ki?” Straight to the point. “Bisa dibilang begitu.” “Emangnya apa untungnya nyolek bocah kencur kayak elu ya, Ki.” “Lupa lo bapak gue siapa?” “Fak. Mantep ya jadi orang kaya. Mau sombong juga emang patut disombongin.” Iki geleng kepala. “Terus, marga sepenting marga elu yang dikeruk tuh?” “Diperas.” “Ngeri. Abis-abisan?” “Iya.” Iki berhenti sebentar, lalu kepalanya miring demi menatap mataku. “Sekarang, nama Rizky gak cuma milik gue.” “Buset dialog lu sedep amat.” Upin menimpali. “Terjadilah.” “Hah?” Upin bangkit dan kepalanya muncul dibalik tubuh Iki, rasa ingin tahu Upin sama besarnya dengan rasa ingin tahuku. “Tau Shen Airlines?” lanjut Iki masih menatap mataku dalam-dalam. Rasa takut kini menjalar ke seluruh tubuhku. “Hah? Apaan tuh? Shen? Rizky Shen? Kakak lu noh Shen Xiaoting? Apaan anjing.” “Tau.” Aku menyahut. “Nama gue resmi dalam naungan institusi, Pin.” “Mentang-mentang gua orang kampung, lu jangan sembarangan kibulin gua, Ki. Ngomong yang bener, yang mudah dimengerti rakyat jelata kayak gua.” Omongan Upin tidak Iki gubris. Iki lebih fokus mengunci matanya pada pandanganku. Jakunnya naik turun menelan ludah di kerongkongan. Ketika tanganku bergerak hendak menutup mulutnya menghentikan dia memuntahkan dialog yang paling aku benci, “Maafin aku, Lis. Aku belum bisa ngasih apa yang kamu mau.” Terlambat, aku sudah tertampar kencang kalah telak. Akulah pecundang yang dipaksa berdamai dengan kehampaan. Kesimpulannya, sebelum dan sesudah Iki, aku ini tetap bukan siapa-siapa.
Wholeheartedly,

screenshot (so it'll last longer)

Hal yang paling gue suka dalam seharian penuh lelah ialah pulang. Habis jadi pemeran utama seharian, habis dipandang bergerombolan mata penonton, sekarang waktunya istirahat. Rasanya benar-benar kosong setelah energi bahkan nyawa gue disedot habis-habisan hari ini. Untungnya gue punya Ghiyas yang hadirnya mampu mengembalikan sisa-sisa nyawa gue yang sempat melayang di udara kembali masuk ke sanubari. Seperti biasa, Ghiyas selalu mengantar-jemput gue kemanapun gue pergi. Melihat sosok familiar itu berdiri menyambut lelah gue yang lantas memudar jadi penyemangat gue setiap hari. Tuh, belum apa-apa dia sudah nyengir terus cekikikan sendiri sampai-sampai bahunya bergetar menertawakan dengusan berat yang gue lenguhkan. Nyebelin sih, tapi gue jadi ikutan cekikikan juga. Di atas motor juga gak banyak obrolan, cuma update kegiatan masing-masing hari ini, yang banyak omongannya si dia yang kesana kemari bawelnya. Lalu tangan Ghiyas yang sesekali mengeratkan ikatan lengan gue pada pinggangnya. Sampai di apartemen, tukar giliran masuk kamar mandi, saling mengeringkan tetes air di rambut satu sama lain, barulah akhirnya kami berdua jatuh di atas kasur dalam posisi berpelukan. Semuanya sudah jadi rutinitas dan gue merasa terlampau nyaman untuk menarik lengan kekar Ghiyas dan menempelkan kepala disana. “Kak? Aku maunya dipeluk…” lirihnya manja. “Yaudah, iya..” Lantas dengan semangat penuh dia masuk dalam pelukan gue, menaruh kepalanya di antara dada dan ceruk leher gue kemudian di depan mata sudah ada tangan yang menjulurkan handphone dengan siaran ulang talk show yang gue bawa tadi. “Heh—ngapain, sih? Siniin gak. Matiin, Ghiyas. Ide darimana nontonin beginian tanpa izin aku?” Tapi protes gue tidak diindahkannya. Justru Ghiyas dengan lengan jenjangnya terus berhasil lolos dari gue yang juga terus gagal meraih. “Aku kan juga mau lihat cantiknya aku. Eh—awas awas tangannya. Audiens Kakak hari ini rame banget? Tuh, tuh, disuruh lihat layar kenapa bola matanya pada masih melototin Kakak semua? Tolol ya lu pada, tutup gak mata lu. Jir, Pak, Bapak udah tua jaga pandangan. Mentang-mentang orang penting duduk paling depan matanya jelalatan. Sumpah ini mah pada kegenitan.” Asal bunyi semua komentarnya, bikin gue meringis geli. “Apasih, bawel banget kamu tuh.” “Kak! Ada kamu! Bentar, bentar, capture dulu. Wuidih dari kanan juga cantik banget! Bentar, screenshot lagi. Apalagi kalau dari depan cantiknya gak masuk akal. Inilah dia tujuh keajaiban dunia.” Aduh, jadi malu sendiri dengar bunyi screenshot yang sahut-menyahut. Sampai seisi kamar cuma ada riuh heboh Ghiyas beserta suara tangkapan layar yang bergema. Berisik. “Apasih, berlebihan.” Menyerah, gue hanya bisa diam menyaksikan kegembiraan yang terpancar di wajahnya yang sibuk mengamati layar. Seolah tidak ada lagi yang boleh jadi fokus selain si cantik yang terus dia screenshot tiap kali muncul. Gue cuma diam-diam tersipu malu membenamkan wajah di puncak kepala Ghiyas. Jadi, gue mengambil kesempatan untuk menyisir rambut di jidat dia dengan tangan kosong lalu tangan gue terus turun menyusuri lekuk wajahnya dan kemudian bermuara pada sudut bibirnya yang tertarik ke atas tak berhenti senyam-senyum sendiri. Hingga gue sadar suara berisik dari telepon genggam Ghiyas mendadak hilang. “Kalau di pegang-pegang aku bisa bingung sendiri loh ini.” Gue hanya bisa menertawakan reaksi menggemaskan Ghiyas. Ya, sekalian aja gue godain, “Lagian ngapain sih capture-capture mulu kayak gak bisa capture aku langsung aja!” Ghiyas bingung dengan ekspresi super bloon andalannya, dia membuka matanya lebar-lebar mulai meragukan pendengarannya. "Emangnya bisa ya capture langsung?" “Bisa." “Hah…?” Ghiyas masih bengong. Kelihatan dari cara matanya berkedip perlahan dan mulutnya menganga, ini orang betul-betul kosong. Tak kuasa menahan geli gue acak puncak kepalanya sambil cekikikan. "Coba, capture aku." lontar Ghiyas lagi. Pernyataan barusan cukup membuat tawa gue hilang seketika. Lantas gue memandang lurus pada wajahnya, mencari titik bola mata imut menggemaskan itu, kemudian menyelam di sana. Dia betul-betul oon. “Ih, gemes!” Dua telapak tangan gue satukan pada bongkah kiri dan kanan pipi Ghiyas dengan satu kali tepuk pelan hingga yang di screenshot tercengang. Kan, lucu. Belum puas sampai disana, gue usap telapak tangan dingin gue pada permukaan wajah yang merona itu. Hangatnya mengalir deras, tak cuma pada lapisan kulit telapak, melainkan tertransfer hingga dada gue yang ikut mendidih. Sekali lagi, HAP. “Screenshot.” “Hehehe…,” diikuti tawa geli Ghiyas. Lagi, HAP. “Screenshot.” Ghiyas menangkup tangan gue, mengarahkan usapan tangan dengan pola melingkar. Lalu dia tutup mata menikmati, bibirnya tersenyum, seluruhnya puas mengecap hangat. “Hehehe…” Malah cengengesan. “Mau lagi. Mau lagi.” “Hahahaha… Nih, aku screenshot. Satu. Dua. Tiga.” Habis itu mukanya gue tangkup lagi kiri dan kanan, sementara si dia ketawa-ketiwi. “Hahaha… Oke. Oke. Sekarang giliran Kakak.” Mendengar permintaan menggelikan itu gue cuma bales dengan acak-acak puncak kepalanya. Tanpa jawaban dari mulut gue, Ghiyas sudah keburu meng-capture muka gue dengan kedua telapak tangan yang ukurannya dua kali lipat lebih besar dari telapak gue juga bahkan dari muka gue. “Hmnyhahahahaha… lucunyaaaaa…” “Hmpphh… curang.” Kaget, LAH. “Stop. stop. stop. Tangan kamu segede wajan.” “Screenshot.” “Ghiyas!” “Hahaha… ya maaf. Terus gimana. Masa aku gak boleh screenshot juga? Terus aku bolehnya apa?” Bibirnya yang mengerucut, dahinya berkerut, dan tangannya yang aktif mengguncangkan pipi gue gak sabaran, semuanya itu oon. “Yaudah, bebas. Kamu maunya ngapain? Selain tabok pipi aku loh, ya.” Masih dalam posisi berbaring mesra di atas kasur, dengan sela jarak yang amat sempit membuat gue bisa merasakan kehangatan tubuhnya hingga detak jantung yang bersahut-sahutan. Gue pun mudah menangkap kemana sepasang mata bundar itu berkelana menyusuri gue seutuh-utuhnya yang kini jadi titik pandang hingga berakhir jatuh tepat pada bibir gue. Kenapa ya mukanya gampang ditebak banget? Muka pengennya bikin pengen ketawa. “Kak.” Ghiyas diam-diam menarik pinggang gue di balik selimut. “Mau Kakak.” Dalam sekejap rasanya gue ingin jungkir balik akibat menyaksikan perpaduan rautnya yang harap-harap cemas penuh damba bersamaan dengan telapak tangannya yang menetap di lekuk pinggang gue. “Iya… mau apa? Mau diapain akunya?” Melihat dia gigit bibir penuh konsiderasi mengingatkan gue dengan yang sudah-sudah, bagaimana pandangannya akan cepat kabur dan banyolan yang keluar dari mulutnya hanya akan berakhir jadi hiburan gue semata. Ghiyas gak berani meminta dan ujungnya keinginan itu hanya akan menguap begitu saja. Ghiyas gak bisa apa-apa. Seenggaknya begitu pikiran gue sepersekian detik lalu, sampai tanpa aba-aba tangan Ghiyas naik menyentuh dagu menyusuri garis rahang, lalu meraup pipi gue kemudian membubuhi kecupan manis disana. “Ini yang aku mau.” Gue tatap wajah Ghiyas lekat-lekat, dia memerah malu. “Ghiyas?! Kamu ya…,” Gue mendekatkan wajah kami berdua lalu iseng menggesekkan hidung gue ke hidung bangirnya. “Nakal.” Bukan cicitan malu-malu maupun tindakan melenggang kabur tiba-tiba, karena biasanya Ghiyas cupu, tapi kali ini dia hanya diam dan masih menahan kontak mata. Ghiyas mendekat pelan, matanya nyari tanda-tanda dari gue, gue menyungging senyum tipis, memberi ruang buat Ghiyas mulai sendiri. “Aku cium, ya.” Tidak menemu penolakan, bibir Ghiyas mulai menyentuh permukaan bibir gue dengan lembut di kecup satu kali. Setelah kecupan-kecupan kecil berulang, barulah dia membuka mulutnya dan dia putuskan untuk meraup bibir gue dalam satu lumatan, di saat yang sama gue melenguh kagum dengan usahanya. Lalu mendikte sudut-sudut bibir gue dengan lumatan perlahan, penuh hati-hati. Lagi, lagi, dan lagi. Kemudian Ghiyas mulai terbawa suasana, napasnya makin pendek, gerakannya tergesa, bibirnya geser-geser mencari titik pas tapi nggak ketemu. Sekali dua kali, kepalanya miring tapi malah mentok hidung. Tangannya meraba sembarangan naik turun dari pinggang hingga punggung gue, matanya sempat lirik-lirik bibir terus balik lagi ke mata gue. Ghiyas gugup dan kebingungan mencari arah. Gue tak kuasa menahan senyum, tiap matanya melirik geli. Saat Ghiyas tanpa sadar sedikit menggigit bibir bawah gue, gue langsung nyengir, beneran nyengir. Gue mundur, nyenggol jidat Ghiyas pakai dahi sambil ketawa kecil. “Eh, kamu ngapain sih.” protes gue sambil berusaha menahan tawa. Ghiyas cuma bisa bengong, kaget sendiri sama semangatnya barusan. Mukanya merah, alisnya ngumpul di tengah, bibirnya setengah kebuka, dia linglung total. “Ya aku… aku kira... pelan gitu. Maaf. Tapi terus, Kakak diem aja, terus aku coba—eh, atau aku kurang gerak?” suaranya serak. Tangannya nggak tahu harus taruh di mana, akhirnya malah garuk belakang leher sendiri. Akhirnya panik pecah jadi tawa. Gue gak masalah dengan Ghiyas yang mencoba memberi yang dia mampu walau caranya acak. Gue suka bagaimana tangan Ghiyas menyentuh, bibir Ghiyas menerka, lidah Ghiyas menjelajah, semua titik tidak teratur yang ingin dia bubuhkan cinta, gue suka. Gue suka sentuhan-sentuhan manis itu. Beberapa detik hening. Baik gue dan juga Ghiyas sama-sama sibuk mengatur hembusan napas yang menggelitik pori wajah satu sama lain. “Ghiyas…,” Senyuman Ghiyas yang menyahut. Bahkan mau dia diam dan senyum tipis gitu aja cukup buat gue frustasi dan akhirnya gak mau lagi menahan diri. Gue tarik kerah bajunya mengambil alih kendali dan menyatukan kembali bibir yang masih dalam keadaan basah dan bengkak. Ghiyas sempat narik napas kaget waktu bibir gue nekan memperdalam lumatan, sebelum dia sempat tarik kepalanya. Mengharuskan gue berhenti sebentar memberikan reasuransi, bibir gue cuma nempel tipis di bawah bibir Ghiyas, dan gue berbisik pelan, "Ikutin aku, ya." sebelum lanjut cium dia lagi. Tanpa jeda giliran gue memberi ritme, arah, dan Ghiyas cuma bisa nurut, matanya merem dan bahunya lemas ngelepasin dirinya sepenuhnya. Napas saling berburu, bibir yang sesekali pisah cuma buat tarik udara, lalu nyatu lagi. Mulut gue kebuka sedikit dan lidah gue nyentuh pelan bibir bawah Ghiyas. Tangan Ghiyas akhirnya berani bergerak pelan, yang tadinya bertengger di pinggang kini menjamah kulit di balik baju tipis yang sedikit ketarik akibat tubuh yang persisten bersenggolan. Reflek tangan gue naik ke belakang leher Ghiyas, menyelipkan jari di rambutnya, menahan dirinya tetap dekat. Bibir Ghiyas sudah pandai merespon, nggak lagi asal nyari, tapi ngeladenin. Detik berikutnya, semuanya jadi jauh lebih dari sekadar saling tempel bibir, mulai saling baca, lidah satu sama lain saling beradu mendesak masuk dan menjilat kemana-mana, berlomba pula dengan degup jantung yang mulai tak karuan. “Kak.” Satu panggilan dari Ghiyas cukup menghentikan gue yang berkecamuk sebelum hilang kendali. Tautan kami pun berpisah seiring tarikan napas, dahi ketemu dahi, gue tatap Ghiyas sebentar, senyumnya masih ada. Ghiyas maju untuk mencium pelipis gue berusaha menenangkan sisa degup yang belum sepenuhnya reda. “Aku sayang sama Kakak.” Ujaran yang tidak bisa gue balas. Maka, sebelum diburu waktu untuk segera tidur, gue sisipkan dialog usil di telinganya. “Ciuman kamu remedial. Banyak yang harus diperbaiki.” Ghiyas ketawa kecil, matanya mulai berat. “Aku siap remedial tiap hari, Kak.”

Journey Into the Heart : Dream, Desires, and Nostalgia

Gunawan bukanlah seekor kucing melainkan seorang pemimpi. Mimpi adalah cara Gunawan untuk hidup dan Gunawan memilih hidup untuk mimpi. Kalau punya mimpi itu harus tinggi, lalu Gunawan kerap berjumpa rumah dengan meja makan kecil beserta dua kursi yang masing-masing diduduki Mami dan Bapak dalam lelapnya. Setinggi-tingginya ekspektasi yang bisa Gunawan gantung di langit adalah harmoni dan romansa yang seharusnya minimum. Apabila hidup berlandaskan mimpi, lantas apa yang ditawarkan dunia hanyalah kekejaman sebab membuka mata jadi berat dan kenyataan menampar begitu keras. 21 tahun yang lalu Gunawan lahir tanpa nama belakang memperjelas bahwa mimpi hanya akan selalu jadi angan-angan tanpa wujud nyata. Gunawan hanya bisa mengutuk dan menyangkal, mungkin lahir adalah kutuk dan sangkal jadi penawar. Hidup memang pahit walau tak selamanya. Mimpi memang bual walau tak selamanya. Gunawan hidup dan mati bersamaan, matinya adalah nyata, hidupnya adalah mimpi. Mungkin semesta memang paling tega, tapi Gunawan tidak pernah berhenti bermimpi. Jadi, waktu semesta meregang tak karuan hal yang paling mudah dilakukan adalah bermimpi. Jadilah baik kelak tuai tidak berkhianat. “Saya bukan orang baik.” Gunawan melirik ke arah kamera, menghela napas, kemudian tersenyum lirih. “Saya terus mencoba dan akan selalu ada ruang untuk menjadi baik. Tapi, saya masih jauh dari kata baik.” “Melihat pencapaian kamu selama ini, jelas luar biasa. Lantas apa yang menjauhkan kamu dari predikat baik?” “Harin. Haura Rinanti.” “Harin itu siapa, Gunawan?” Persetan dengan dunia sebab nyatanya semesta memang si paling tega. Tapi tidak dengan mimpi-mimpi Gunawan karena pada sudut paling jauh ada fantasi tempat ia bebas mencinta tanpa takut sebelum dia, dirinya sendiri, menggenggam terlalu erat sampai si pelipur menguap ditelan ruang dan waktu. Ya, balik lagi, persetan dengan dunia. “Harin adalah sesal yang ingin saya selesaikan.”

Gun Wook JW Anderson's Interview:
"I believe that dreams are a phenomenon that come from the depths of the unconscious. I dream about things that I want to do, things that have left an impression on me, things that I wish for, or sometimes things that I am afraid of and fear... Things that i'm not clearly aware of inside of myself appear as dreams. It's interesting because unconscious feelings can suddenly appears in dreams. Recently, I dreamed that I was playing with my local friends in the hometown where I was born and raised. A very nostalgic, memorable place."
Credits:
Gun Wook Global

Brondong Intern

Matahari sudah lama hilang ditelan bulan dan gue masih berseteru dengan cahaya biru terpantul tepat di depan wajah. Seenggaknya ada dua tiga kali proses pemulihan berulang namun hasilnya nihil. Bahkan es batu dalam botol stainless gue sudah melompong menyisakan serbuk kopi di dasar sana. Temaram bola lampu jadi pertanda bahwa gue harus segera menyudahi segala upaya. Hal-hal tentang peluh penat sehari penuh tidak terlalu gue ambil pusing karena gue senang melakukannya. Jadi, gue menutup hari tanpa keluh kesah dan menekan tombol di lift dengan enteng. Bunyi nyaring memberi sinyal gue telah sampai di lantai paling bawah. Ujung mata gue sudah memindai mini cooper yang bertengger sendirian disana barulah gue sadar kalau gue lupa bawa kunci mobil. Gue rogoh celana bahan gue di kiri dan kanan kemudian tas bahu yang didalamnya penuh aneka objek membuat gue kewalahan sendiri. Sampai lampu sorot mobil menyilaukan penglihatan gue diikuti suara klakson lantang. “Halo, cantik! Sendiri aja, nih?” kepala seorang pria menyembul keluar dari jendela pintu mobil. “Lo—” Kalimat gue berhenti saat gue menyadari bahwa kunci mobil yang gue cari-cari terselip dan berputar di jari telunjuk si tengil yang lagi cengengesan itu. “Siniiiiii…” Gunawan mengibaskan tangannya di udara menyapa bersama senyumnya berseri-seri. Gak pernah terbayang dalam kepala akan ada skenario pada sibuk-sibuknya dunia justru kedatangan brondong tengil bernama Gunawan si anak magang yang baru kurang lebih tiga bulan wara-wiri di kantor sekaligus di hidup gue. “Boleh minta instagramnya gak, Mba?” “Makan siang bareng, yuk! Gue ada rekomendasi warteg mantep!” “Buset kerja mulu, Mba. Malem minggu mah orang-orang mojok di bioskop.” “Kalau gue chat ada yang marah gak, Mba?” Sebetulnya bukan suatu hal yang penting apabila dia dan segala ide dan cara berusaha mengikis jarak langkah demi langkah terhadap gue karena gue tidak terlalu peduli. Tapi, bukan berarti lampu hijau untuk dia petantang-petenteng seenaknya di sekeliling gue. Satu sisi gue tidak keberatan diekori, sisi lain gue cuma bisa merespon tanpa ekspresi. Masih dengan dirinya dengan wajah penuh semarak juga bahunya yang tak berhenti naik turun karena terlalu bersemangat, norak. “SELAMAT ULANG TAHUN!” sorak Gunawan bergema. “Shh, masuk dulu, masuk dulu, sana, buruan.” Gimana gak panik, selain terheran-heran entah darimana dia bisa dapat akses masuk mobil pribadi gue itu, gue jauh lebih kalang kabut waktu dia ketawa puas membuka kedua tangannya ke atas kepala persis perilaku panda merah yang berdiri menghadapi ancaman. Ukuran tubuhnya yang dua mungkin tiga kali lipat lebih besar dari tubuh gue membuat gue cukup keberatan dan jelas tidak akan mampu menyamai energinya yang membuncah itu. Alasan lainnya, gue takut kelelep aja. “Loh-loh, Mba? Ini tangannya udah terbuka lebar-lebar, loh?” Buru-buru gue raih kedua telapak tangannya turun dan mendorong punggung lebarnya, “Iya, peluk-peluknya belakangan. Sekarang masuk dan jangan berisik. Malu, ngerti?” Oh, gue jadi sedikit menyesal melihat mimik wajahnya yang berubah drastis. Gunawan berjalan mengitari mobil dan memilih nurut perintah gue untuk duduk manis di kursi penumpang. Gue betul-betul tidak bisa dan tidak akan pernah bisa mengerti isi kepala Gunawan. Menurut penaksiran gue dia hanyalah satu dari banyak laki-laki di luar sana yang penuh rasa ingin tahu serta suka memacu adrenalin dengan cara menaklukkan hati perempuan yang sekiranya buat dirinya adalah misteri. Semuanya itu tampak jelas setiap bertemu mata kala berpapasan, celetukan-celetukan jail, hingga sahutan tawa di sela-sela obrolan semata-mata untuk memenuhi kepuasan hingga meletup-letup yang sifatnya temporer. Namun, Gunawan ada di hadapan gue bersama tatapan sayu kecewa karena tidak direspon sebagaimana yang dia mau. Maka gue raih kerah kemeja yang amat kaku itu dan melontarkan ultimatum kepadanya. “Kalau lo diam aja gak bilang maunya apa, mending turun.” “Mau rayain ulang tahun, boleh?” cicit Gunawan merunduk sedalam mungkin. “Siapa yang ulang tahun—” Gunawan geleng kepala. “Hm, penyakit orang tua.” “Lo tuh—” Belum selesai gue mengeluarkan gencatan senjata sudah di interupsi duluan dengan berbagai gerak-gerik mengejutkannya. “Shh, jangan marah-marah udah tua makin tua. Mending kita potong kue. Ini dia, kuenya, lilinnya, korek mana ya korek… Mba ngeroko, kan? Anjir—ampun buset main geplak aja. Bercanda, Mba. Oh, ini dia koreknya. Tinggal nyalain, sat, set, beugh mantap. Nah, selesai!” Repot. “Udah?” Si anjing golden retriever mengangguk-angguk antusias. “Udah, Mba.” Suasana sunyi sepi parkiran, pencahayaan remang-remang lampu mobil menambah aura intimasi, kemudian sesi nyanyi lagu selamat ulang tahun berdurasi 3 menit itu memantul pada sudut-sudut mobil. Melupakan betapa istimewanya sebuah perayaan sudah jadi hal biasa, tapi dirayakan oleh yang bukan siapa-siapa membuat gue berpikir dua kali. Imajinatif, tapi Gunawan mewujudkannya dengan cuma-cuma, setulus hati. Lirikan mata Gunawan memberi isyarat supaya gue segera membuat permohonan sebelum kemudian menghembuskannya pada nyala lilin yang pelan-pelan meleleh. Gue menutup mata lalu dengan suara serendah mungkin, “Semoga kita senantiasa dikelilingi hal-hal baik.” Membuka kelopak mata gue mendapati Gunawan menatap gue dengan lekat. “Makasih. Melibatkan gue dalam doa dan harapan lo, Mba. Makasih.” Lalu timbul rasa ngilu pada jantung. Gue sentil kuping Gunawan usil, “Kira-kira kapan waktunya lo berhenti godain gue?” Terlalu sering berspekulasi menjadi alasan paling kuat buat gue mengantisipasi. Gunawan adalah yang paling transparan. Setiap kali gue menyelam dalam lapisan-lapisan kornea matanya jelas ada penantian disana. Mungkin gue adalah tempat singgah dari sekian jalan yang dia tempuh walau dia malah terjebak dan jadi lupa titik tujunya. “Tapi boleh, kan? Merayakan yang hari ini pantas dirayakan?” “Ya, boleh.” Namun, apapun itu yang Gunawan usahakan gue tidak keberatan bahkan menikmati alurnya. Sebagaimana dia dengan enteng menarik lilin warna-warni dari permukaan kue tart mini dengan taburan coklat diatasnya kemudian dipotong ciamik lalu suapan pertamanya bergerak bebas di udara menuju mulut gue yang otomatis melahap dengan nikmat. “Enak?” Gue angguk kepala tersenyum, “Manis.” “Senang?” “Senang.” Saking gak ada yang menariknya di hidup gue bahkan tiada ruang untuk takut maupun berani. Takut dikejar brondong gila atau berani mengejar apa yang dia tawarkan. Biarlah semuanya mengalir mengikuti arus. “Gue juga mengharapkan hal yang sama seperti harapan lo barusan, Mba. Supaya selalu dikelilingi hal-hal baik. Gue mau menjadi baik.” “Yaudah, jangan kemana-mana kalau gitu?” sanggah gue sambil lipat tangan di depan dada. “Jadi maunya gitu? Mau gue? Ada di sekeliling lo misalnya?” “Iya… selama ini juga udah, kan?” Gunawan serta merta mengumpulkan kedua tangan gue dalam genggaman hangatnya dan matanya membulat menatap gue penuh harap. “Lo tuh… Ya ampun…” Gue meraup wajah Gunawan dengan gemas lalu mengusap puncak kepalanya. “Gemes.” Malam itu, alih-alih berkontemplasi untuk pertama kalinya gue melupakan segala spekulasi dan membiarkan diri jatuh dalam buaian brondong tengil.

cookiss
Percaya atau tidak pada hari paling istimewa, hari ulang tahun Gun Wook—pacar gue, tidak ada satupun rencana yang berjalan dengan baik. Seharusnya, suasana romantis dimana hujan rintik-rintik dibersamai aroma petrichor berbaur dengan aroma vanili menjadi ornamen yang menghias perayaan satu kali setahun ini. Lucu kan, masak cookies bareng pacar? Tapi, pacarnya hilang. Gun Wook terjebak hujan. Gak jadi lucu, deh. Alasan sesepele itu memang sepatutnya gak perlu direspon dengan kesal berlebihan. Bukan kesal melainkan marah. Ya, karena alasan aslinya adalah dia yang bersikukuh bermain futsal menuruti permintaan teman tongkrongannya berujung melupakan janji untuk memasak cookies bersama di kosan gue. Hal yang tidak ada dalam prediksi adalah hujan deras yang tiba-tiba mengguyur tandus permukaan bumi. Pada situasi tidak terduga ini gue justru paling hafal bahwa Gun Wook dengan spontanitas luar biasa itu pasti rela-rela aja menerjang hujan sampai ke kosan gue dengan dua alasan, yang pertama karena ‘seger mandi hujan abis main bola’ atau yang kedua ‘harusnya kamu gak marah karena aku rela loh terobos hujan demi ketemu kamu’, Gun Wook dan berbagai alibi tengilnya. Urusan gue luluh atau enggak itu belakangan. Hal pertama yang Gun Wook lakukan sesampai di depan pintu kosan gue adalah membuka helm dan mengacak rambut basah berkat guyuran hujan. Meneliti dari ujung kepala hingga ujung kaki semuanya tak luput dari air yang menetes. Sekian kali berhadapan dengan Gun Wook tapi rasanya selalu ada kejutan baru yang mampu buat gue tertegun. Dia mengenakan hoodie hitam polos, bercelana pendek dengan warna senada pula, dan tangan kanannya menenteng helm yang sama b