nje
Barangkali dipermainkan brondong akal-akalan wahana semesta yang sifatnya tidak mudah ditebak itu adalah alternatif untuk meluruhkan lelah dan melarutkan resah maka jadilah.
Felicia sebelumnya tidak pernah merasa segelisah ini saat melihat sekelompok anak magang berjalan di sekitar kubikelnya. Tapi berbeda ketika matanya menangkap sosok yang paling sumringah di antaranya yang belakangan diketahui bernama Josiah.
Sebagai karyawan magang yang masih meraba-raba cara beradaptasi Josiah masuk dalam kategori yang secara natural menarik atensi.
Josiah itu tipe orang yang gak perlu usaha keras untuk menarik perhatian sekitarnya. Setiap langkahnya selalu dia sisipkan senyum sambil mengangkat alis menyapa semua orang yang berpapasan dengannya. Pokoknya dalam radius kurang dari satu meter dalam penglihatan Josiah harus dia sapa dan herannya lagi kebanyakan sudah dia kenal. Belum lagi setiap kata yang terucap tak pernah ketinggalan bumbu gurauan rayuan. Kesimpulannya Josiah adalah seramah-ramahnya manusia.
Kendati reputasinya, eksistensi Josiah bukannya penting untuk Felicia.
Namun Josiah paling jago melangkahi hipotesis sampai ambruk. Presensi Josiah begitu mencolok hingga tak satu orang pun luput dari radarnya, termasuk Felicia, terutama Felicia.
Kilas balik tiga bulan lalu pada agenda mingguan minum kopi hingga dini hari jadi momentum dimana Felicia yang kepalanya sudah hampir jatuh terjerembab menyentuh kerikil coffee shop diselamatkan oleh Josiah bersama senyumannya.
“Loh? Udah sebulan magang di tempat lo bahkan wara-wiri keahlian doi. Beneran baru kenal sekarang? Sebelum gue ajak nongkrong kesini juga lo pada gak tahu satu sama lain? Masa masih gak kenal Josiah, Fel?”
Sabian dengan wajah sejuta tanya itu mangap selebar mungkin sambil mengerjapkan matanya tak percaya.
Belum lagi yang lain jadi kompor.
“Yakali satu kantor tapi gak saling kenal.”
“Pasti udah kenal cuma cuek aja.”
“Kenalan dulu lo berdua, buru.”
Sementara yang ditanya tanpa melirik lawan bicara hanya menjawab singkat, “Berisik.”
Felicia bukannya tidak menyukai Josiah yang suka menjembatani senyum.
Justru baik melihat seseorang yang membuncah energinya kemudian mengundang sekitarnya untuk ikut tertawa. Josiah si paling mahir.
Cuma… selama gak banyak bersinggungan untuk mengenal lebih jauh dari sekedar rekan satu kantor itu rasanya gak perlu-perlu amat, kan?
“Tak kenal maka tak sayang. Jadi… boleh kenalan dulu supaya bisa saling sayang?”
Suara nyaring berkumandang memicu sorot mata tertuju pada Josiah dan perempuan yang ingin dia curi juga perhatiannya yang kini menunduk menahan malu.
Sumpah, dialog yang mengundang mual untuk keluar mentah dari mulut. Betul-betul udah siap nyari kresek buat segera memuntahkan isi perut.
Berakhir sudah, jadi beda ceritanya ketika Felicia mendongak menyatukan pandangan dengan sumber suara dan mendapati laki-laki berhoodie hitam itu memberikan senyuman lebar serta tawa kecil mengikuti.
Seharusnya kopi tidak mengandung alkohol melainkan kafein, pun kuantitas kopi yang diteguk Felicia semalam suntuk bukan nilai yang mampu memicu halusinasi.
Namun, cara Josiah tersenyum hangat sambil mendekatkan wajah dan menarik telapak tangan Felicia diperparah dengan dirinya yang mulai berbisik kecil, “Nama aku Josiah, Kak. Salam kenal, ya.”
Hampir saja Felicia menampar pipi.
Barusan itu mimpi, ya?
Apapun yang Felicia lihat barusan akan jadi memori paling unik karena rasanya gak pernah sefokus ini memandangi sosok tengil yang cengengesan memiringkan kepala, menaikkan alis, dan bola matanya berbinar penuh cahaya.
Jadi begini rasanya dipermainkan brondong.
“Kenapa lo bisik-bisik?” jawab Felicia sewot sambil menarik lepas paksa tangannya dari jabatan Josiah.
Josiah masih cengar-cengir angkat bahu, “Harus kecil-kecil, takut Kakak malu.”
“Kenapa harus malu? Kenalan doang.”
Dalam hitungan sekon Felicia akan menyesali pertanyaan yang ia ajukan.
“Ooh,” senyum kemenangan terpatri di wajah Josiah. “Kakak mau disayang besar-besaran ya?”
Gila. Gila. Gila.
Satu-satunya respon yang mengudara hanyalah suasana hening seketika.
Ya, lagian. Asbun banget!
Sementara Felicia sudah terlanjur mendadak cengo keheranan, Josiah celingak-celinguk kiri dan kanan memandangi teman-teman satu meja yang sudah tidak lagi fokus pada gawai masing-masing melainkan saling bertatap mata ingin tahu.
Maka sekali lagi Josiah ulurkan tangannya.
“Hehehehe… Kalau gitu, salam kenal Kakak sayang.”
Yaudah kelar.
Meledaklah satu tongkrongan tertawa dan mulai bersorak. Ada juga yang bersiul. Parah lagi mulai bermain gitar sambil bernyanyi nada asal-asalan dengan nama Josiah dan Felicia jadi lirik lagu cinta. Tak ketinggalan Josiah memimpin menepuk meja seolah main gendang.
Felicia tidak bisa apa-apa selain membenamkan wajah di balik layar laptop berharap semu merahnya tersembunyi.
Hari pertama dipermainkan brondong.
Apakah semesta atau Sabian—adik tingkat Felicia yang tanpa sengaja memperkenalkan Josiah sebagai bentuk formalitas karena kebetulan berpapasan di kedai kopi.
Atau mungkin salah diri sendiri.
Hari berganti hari hadirnya berkala jadi setiap hari, yang tadinya tumbuh melalui sela-sela jadi mengambil alih segala perhatian, bukannya puitis dan penuh hati-hati, tapi berbentuk tindakan-tindakan sembrono yang tidak lagi terkendali.
Pesan-pesan singkat.
Replied to your Story
Josiah 23.15
Malam amat lemburnya, Kak?
Replied to your Story
Josiah 06.00
Et siapa tuh? Mantan lo ya, Kak?
Gantengan juga gua kemana-mana.
Replied to your Story
Josiah 06.15
Gue kenal tuh tempatnya.
Sering sarapan di situ juga?
Jangan lupa cobain bubur ayam yang di sebelahnya juga enak asli.
Josiah masih tidak lebih dari pegawai magang yang umurnya lebih muda dan tindakannya sok tahu.
Josiah masih tidak lebih dari si manusia adaptif yang senang interaksi.
Lalu pindah ke aplikasi WhatsApp beralasan supaya ada yang ngingetin bangun pagi.
Josiah 06.30
Pagi cantik!
Semangat menjalani hari.
Josiah 11.26
Jujur meriang.
Merindukan kasih sayang.
Hingga hari menjelang malam.
Josiah 14.20
Selain cantik, hari ini udah ngapain aja?
Josiah 18.30
Kita searah loh.
Sekalian pulang sama aku aja, Yuk? Hehe.
Kiriman makanan.
Josiah 19.30
GoFood atas nama Felicia.
Alamat sesuai titik, ya?
Aku otw apart Kakak.
Aku tau Kakak suka milkbun :p
Kiriman bunga.
Josiah 12.12
Kak i stumbled upon this sunflower and it reminds me of you.
Kiriman foto-foto berbagai ekspresi.
Josiah 08.35
Diliat-liat gue cakep juga dah.
Ketik 1 apabila setuju.
Sampai Josiah puas menguasai dunia Felicia dengan hadirnya.
Josiah 17.00
Kak, aku udah di parkiran.
Tidak hanya sebatas interaksi daring, dirinya mulai bermunculan dimana-mana. Sehingga kemudian ada banyak tahapan realisasi yang jadi titik balik kesadaran bahwa menghadapi Josiah itu tidak mudah.
Rutinitas mencari fleksibilitas waktu untuk bertemu menjadi pertemuan-pertemuan selanjutnya yang secara bertahap terkumpul jadi Josiah menemukan Felicia yang pasrah saja dengan kedatangannya.
Josiah brondong pertama Felicia dan butuh energi ekstra untuk menghadapinya. Ocehan, gurauan, rayuan, hingga kekehan ciri khas Josiah menjadi hafalan Felicia setiap harinya.
Seringkali Josiah kedapatan melangkah gontai menghampiri meja kerja Felicia lalu dengan enteng nyeletuk, “Serius amat, cantik.” Buyar sudah fokus satu ruangan menjadi tatapan celingak-celinguk penuh asumsi.
Bukannya merasa bersalah, Josiah justru cengengesan sambil garuk kepala. “Ya gimana? Emang cantik.”
Menurut Felicia sejauh ini tindakan paling tepat untuk menghadapi manusia pancaroba seperti Josia tidak lain dan tidak bukan, cuekin aja.
Lagi-lagi bukan Josiah namanya kalau tidak penuh dengan kejutan.
“Nanti pulangnya bareng, kan?”
Lantas seisi kantor penuh bisik-bisik, ada yang mengacungi jempol mengakui hebat spontanitas Josiah, ada pula yang berseru mendukung keberlanjutan apapun yang sedang diusahakan Josiah.
Josiah itu begitu berdeterminasi menunjukkan pada dunia apa-apa yang ia rasa tentang Felicia hingga alhasil menciptakan turbulensi emosi.
Josiah itu seolah ingin berteriak sampai seluruh kuping tiap manusia dapat mendengar, “Gue naksir sama lo anjir, Kak?”
Sementara Felicia selalu butuh waktu lebih banyak untuk mengolah rasa. Suatu waktu lelah dan resah kembali hadir saat saklar dimatikan.
Berbanding terbalik dengan Josiah, akan selalu ada waktu dimana Felicia untuk nyala dan redup, datang dan pergi, terbit dan tenggelam. Terhadap siapapun tanpa terkecuali.
Bila waktunya tiba Josiah mengejutkan Felicia dengan kemahirannya untuk selalu ada kapanpun, dimanapun, dan dalam situasi apapun.
Josiah mengerti dan bersedia untuk mengambill satu langkah mundur memberikan spasi untuk Felicia tarik napas dalam-dalam.
Namun yang kita bicarakan ini adalah Josiah dan sejuta caranya untuk berkoneksi.
“Kemana aja seminggu chat gue gak dibales?”
Raut wajah Josiah jelas jengkel namun langkahnya tidak berhenti mengekori kemanapun Felicia mengayunkan kaki, Josiah haus afeksi.
“Satu hari dicuekin, aku gak selera makan. Dua hari dikacangin, aku susah tidur. Tiga hari dianggurin, pencernaan aku memburuk. Memasuki minggu pertama rasanya mau aku hancurin aja hape aku, Kak.”
Felicia tertawa geli dibuatnya.
Josiah tahu bahwa rewelnya ampuh mengendalikan hati Felicia yang tadinya sengaja dibekukan jadi meleleh karena hangatnya.
Mungkin caranya berlebihan penuh gurau manja tapi afirmasi yang terselip rupanya tulus dan Felicia bisa merasakan itu.
“Buat apa rajin isi kuota kalau target utamanya aja gak respon, Kak. Mending aku daftar jadi CS Rupiah Cepat supaya ada yang aku kabarin.”
“Jangan, dong. Kabarin aku aja.”
Josiah terdiam mendengar tanggapan perempuan sumber nestapanya.
Pasalnya, untuk pertama kali Felicia memberi respon yang bukan penolakan.
Maka tanpa berlama-lama takut buang kesempatan, Josiah menyodorkan jari kelingking yang menghadirkan raut keheranan pada Felicia, sekali lagi Josiah mengayunkan kelingkingnya lalu Felicia mau tak mau menuruti maunya hingga kelingking mereka saling bertaut.
"TENANG ADA GUA."
Yaelah.
“Gak ada dialog lain apa?”
“Hmm, apa ya.” Josiah berkacak pinggang sembari matanya mengamati tautan kelingking yang ada di antara dia dan si perempuan pengelak.
Josiah tersenyum menimpali, “Tetap sama. Ada aku disini.”
Josiah tahu cara mengambil jarak, juga mengambil hati.
“Cara kakak menyayangi dengan sunyi dan hilang. Cara aku menyayangi dengan hadir dan menemani.”
Josiah pandai menyelipkan beraninya di hati si penakut.
Hingga kemudian Felicia benar-benar jatuh dalam permainan brondong.
Dan ternyata Felicia cukup toleran.
“Kamu sakit? Udah minum obat? Aku kesana bawain bubur ya?”
“Ya, Tuhan. Apakah aku harus sakit setiap hari biar diperhatiin sama Kakak?”
“Jangan, dong.” :(
“Tambah demam kayaknya aku, Kak.”
“Iya, iya. Aku kesana maleman ya.”
“Ini sakit, Kak. Sebelah sini. Harus dicium biar sembuh.”
“Ada kedai kopi baru buka searah kosan aku, Kak.”
“Oh, ya? Menu matcha-nya enak gak?”
“Gak tau. Belum coba.”
“Oh.”
“Tapi dengar-dengar banyak diperbincangkan alias hits abis.”
“Mau coba?”
“Mau kalau Kakak mau.”
“Mau.”
“Yuk?”
“Yuk! Sekalian mampir kosan aku mau, ya?”
“Dih? Gimana ceritanya. Gak ada urusan. Dasar modus.”
“Hahahaha bercanda, cantik.”
“Sumpah tangan aku kram lama-lama nyetir.”
“Eh, kamu capek? Aduh macet banget, sih. Mau minggir dulu? Istirahat?”
“Aman. Aman. Aku cuma perlu naruh satu tangan aku disini, nih. Nah. Enakan.”
“Ini orang bener-bener gak ada adabnya.”
“Yah, jadi gak boleh, nih? Gandengan tangan?”
“Sampai kram-nya sembuh aja.”
“Gak sembuh sampe setahun.”
“Sembarangan ih omongannya.”
Kronologi beruntun itu seolah menyulut adrenalin Josiah terus meningkat. Secara singkat, hubungan yang asal muasalnya tidak diduga itu kian tumbuh merambat dengan tiap sulurnya dapat mencengkram kokoh karena keras kepala Josiah.
Walau semua orang yang baca tahu persis bahwa Felicia punya banyak keragu-raguan akan segala sesuatu. Ia terbiasa untuk rehat dan mengambil jarak sebelum rasa lelah dan resah menelannya hidup-hidup.
Jadi, menghindari hal yang menggebu-gebu adalah opsi paling aman untuk dipilih.
Dari sini ambivalensi jadi cikal bakal tolak ukur yang membangkitkan denial.
Jalan Sudirman di jam pulang kantor itu bagaikan sirkuit gladiator modern alias ramai aktivitas lalu-lalang. Melintasi gedung-gedung tinggi dengan bendera one piece berkibar, pedagang kaki lima dengan donat andalannya, dan beberapa pengendara motor saling balap menghindari lampu merah, setiap komponennya berseliweran mencari celah tak lupa ribut klakson bersahutan jadi iring-iringan.
Walau situasi semrawutan, gak masalah soalnya di samping Josiah ada Felicia yang duduk manis, matanya tertuju ke luar jendela, memandang senja yang mulai merona.
Lalu Josiah kembali menggerakkan stir pelan-pelan.
Giliran Felicia diam-diam mencuri pandang ke arah Josiah yang sedang berkonsentrasi penuh.
Pemandangan Josiah dalam berbagai versi dari yang cuma pakai hoodie dan celana pendek, atau bahkan piyama yang atas dan bawahannya tidak nyambung sudah jadi makanan sehari-hari Felicia.
Namun, melihat Josiah dengan kemeja putih rapi dan lanyard menggantung pada lehernya selalu jadi favorit.
Sadar sedang dipindai dengan tatapan menghakimi, sorot mata penuh jenaka itu mulai memandangnya terang-terangan, sampai setir dan jalan di depan sana pun dicuekin.
Setelan fundamental dibersamai senyuman terukir di wajahnya terus direkam Felicia di kepala soalnya istimewa.
Bagi Felicia, Josiah istimewa.
Ah, memang walau karakternya yang nyentrik dan memikat tapi pada dasarnya tetap kerlingan mata bersama senyum lebar itu alasan utama Felicia terpukau sampai detik ini.
“Udah naksir aku belum?” celetuk yang dipuja.
“Fokus nyetir aja, Nje.”
Nje. Panggilan sayang yang kini sudah biasa digaungkan tanpa ada embel-embel godaan usil “Memangnya beneran sayang?” mengikuti. Saking sudah terbiasanya.
“Kenapa lihat-lihat? Cantik, ya?”
Basa-basi yang basi.
Habisnya Felicia gak tahu harus bereaksi apa selain memanipulasi supaya rasa malu tidak perlu ditanggung sendiri.
“Cantik.”
Semakin parah, brondong tengil itu cepat mengangguk kepala, sementara Felicia langsung buang muka takut ketangkap salah tingkah.
“Stop godain aku.”
“Aku cuma bilang cantik.”
“Ya, berhenti.”
“Yaudah coba kakak duluan yang berhenti cantiknya baru aku bisa berhenti godainnya. Bisa gak? Gak bisa, kan?”
“Nje…”
Muak, Felicia memandangi pria di balik kemudi dengan tatapan horror dan dia tempeleng jidatnya supaya tegak lurus ke depan.
Josiah terkekeh lantas mengusap puncak kepala Felicia singkat. Josiah tak sanggup lagi menahan rasa gemas melihat si dia di sebelah berusaha kipas-kipas wajahnya yang memerah, begitu manis.
“Gemasnya pengen aku cium.”
Belum selesai dengan gugup salah tingkah dipermainkan Josiah, Felicia sudah hampir kehilangan nyawa akibat napas yang tercekat sekelebat. Felicia mengedipkan mata repetitif sambil berusaha berpikir hal yang selain bibir Josiah menyesap bibirnya.
Cepat sekali suasana yang tadinya ribut canda tawa berubah jadi hening.
Menyadari sikapnya yang sembarangan Josiah panik melambaikan tangannya lalu segera menyanggah, “Maaf, maaf. Gak maksud serius. Please jangan terlalu dipikirin.”
Ingin rasanya Josiah minta maaf dengan memandang langsung mata perempuan yang sedang dirundung ragu itu namun apa daya kemudi tak bisa lepas dari perhatian. Anggukan kepala Felicia meyakinkan Josiah supaya kembali fokus pada geraknya.
Kemudian keduanya tenggelam dalam kontemplasi masing-masing.
Josiah bersama sesalnya yang acap kali enteng tanpa pikir panjang.
Felicia bersama pertimbangannya untuk mengambil satu langkah mundur.
Seolah mendukung situasi jadi lebih buruk lagi, langit kini semakin gelap cahaya pun pelan-pelan terserap, titik-titik air mulai berjatuhan sebelum kemudian terberai gerakan wiper yang dinyalakan Josiah. Suasana berangsur sunyi, atmosfer berubah jadi dingin.
Tak tahan lagi, Josiah berusaha memecah keheningan.
“Kakak.”
“Iya, Nje.” balas Felicia cepat.
“Panggilan sayang itu lagi.” Josiah memijat keningnya, “Tiap lo panggil Nje rasanya kerongkongan gue mendadak kering, Kak.”
Lagi-lagi suasana kembali sunyi.
Tidak pernah ada dibenak satu sama lain bahwa akan ada masanya mereka berargumentasi perihal pelabelan rutinitas.
Pasalnya, Josiah yang terbiasa mendeklarasikan rasa dan Felicia yang terbiasa menghindari apa yang harus dirasa itu justru kini berangsur tidak tahu bagaimana harus memposisikan diri dalam teritori hati timbal balik.
“Kak.” Josiah berdehem sebelum melanjutkan, “Sedunia juga udah tahu soal perasaan aku untuk Kakak.”
Josiah tarik nafas lagi, “Maaf udah bercanda cium-cium. Maaf kalau ternyata aku beneran sesayang itu, sesuka itu, senaksir itu, sampai punya pikiran buat cium Kakak. Maaf.”
Alih-alih menjawab, Felicia memutar bola matanya sarkastik.
Josiah mencengkram setir, masih dengan tatapan tegak lurus pada aspal, dia melanjutkan, “Aku suka. Aku sayang.”
Felicia punya tendensi untuk memikirkan kilas balik pokok gagasan tentang Josiah poin apa-apa saja yang mengharuskan Felicia untuk menjadi berani untuk maju satu langkah.
Mungkin lewat senyum yang diberikan cuma-cuma. Mungkin lewat keberadaannya dimana-mana. Mungkin lewat kata-kata yang jaminan tulusnya dibuktikan tindakan jua. Pokok utamanya adalah karena Josiah ada untuk Felicia.
“Aku juga suka…”
Josiah menahan napas.
“Aku suka punya kamu. Aku suka punya Nje yang senyumnya, tawanya, bahagianya, sayangnya yang semuanya buat nular. Aku pun rasain hal yang sama. Aku suka.”
Lalu tangan Josiah yang satunya lagi meraih tangan Felicia untuk di genggam.
“Tapi aku takut ada yang berubah, ada yang hancur, ada yang menimbulkan kecewa. Dan kesimpulan kalau aku gak pantas untuk cinta adalah hal terakhir yang aku mau validasi. Apalagi cinta dari seseorang setulus kamu. Terutama untuk mencintai orang sebaik kamu.”
Josiah berdecak kesal.
Josiah menggeram frustasi, “Kakak sayang sama aku?”
Felicia mendongak dari tunduknya mengumpulkan berani untuk memandang raut wajah mendamba Josiah.
“Kakak, sayang?”
Anggukan lesu Felicia menjadi pereda kegaduhan jantung Josiah yang berdetak kencang.
“Dengar aku,” Kemudian Josiah berbisik dengan suara yang berat dan dalam mengimplikasi ketenangan. "You don’t have to have it all figured out. You don’t need to be anything more than who you are. Just let me walk through it with you. Aku kan selalu disini, gak kemana-mana. Aku, Kamu, Kita. Sama-sama.”
Josiah melirik lampu merah.
Banting rem tangan.
Beralih memandang Felicia dengan seksama dan dalam bisik penuh depresi, “God, I’m screwed.”
Belum rampung argumentasi antara mereka berdua, Josiah sudah lebih dulu mengintervensi dengan menangkup kedua sisi pipi Felicia membawanya lebih dekat hingga Josiah yakin bola mata perempuan itu tidak lagi enggan memandangnya.
Jarak intimasi terkikis terus hidung saling bersinggungan dan dalam waktu singkat itu baik Josiah maupun Felicia sama-sama menutup mata tanpa pergerakan besar selain mengatur napas sebagai reasurasi.
Sampai akhirnya rasa hangat di bibir Felicia melebur seluruh isi kepalanya yang serabutan.
Josiah melumat bibir perempuannya selagi lampu merah lalu lintas berkedip tiap detik dari angka ratusan hingga nol. Lampu yang biasanya di serapah sebab lamanya jadi hambatan kini justru jadi satu-satunya kesempatan untuk dua anak manusia menguji isi hati mereka.
Josiah mengecup setiap bibir perempuannya memperdalam pagutan dan melumat dengan lembut. Menangkup kedua pipi Felicia dan mengusapnya halus dengan ibu jari. Kian intens menekan dan menghisap sehingga suara bibir yang beradu jadi instrumen.
Butuh waktu berlarut untuk mencapai konfrontasi diantaranya melalui Josiah yang susah payah mendamba maupun Felicia yang susah payah melawan denial. Dalam prosesnya ada rasa yang diam-diam menjalar ke seluruh syaraf. Mentransfer hangat baik secara kiasan maupun secara harfiah.
Dan semuanya itu ekuivalen dengan pada kurun waktu instan, selama durasi nyala lampu merah.
Semuanya akan baik-baik saja.