yongisol

Semua bermula dari senin pagi yang tergesa-gesa di antara dua rumah yang saling berseberangan. Mata Yonghoon yang berbinar-binar antusias bertubrukan dengan tatapan sinis setengah ngantuk milik Leesol. Yonghoon dan Leesol kecil dalam balutan seragam putih merah. Yonghoon menggendong ransel di punggung kemudian membusungkan dada penuh semangat kontradiktif dengan Leesol bersama bahu lesu membuat tasnya merosot jatuh ke aspal. “Rambut kamu masih berantakan, tuh! Gak mandi ya?” ledek Younghoon sambil tangannya kipas-kipas hidung. Leesol mendongak ke udara lalu meniup anak-anak rambut yang mencuat sekenanya. Lalu matanya balas balik memindai Yonghoon dari ujung kepala hingga ujung kaki semuanya serba licin dan rapi, terlebih bibir basahnya menetes liur-liur yang gak bisa dikontrol. “Lap dulu itu iler kamu, masih suka ngeces, ya?” “Aku gak ngeces. Aku ini dalam masa pertumbuhan gigi!” Giliran Yonghoon melirik bibir beceknya untuk segera di lap menggunakan celemek pemberian mama yang bertengger di lehernya. Leesol garuk-garuk kepala sambil menguap, “Iya, tetap ileran.” Kendati begitu, Yonghoon dan Leesol tetap berangkat bersama ke sekolah, soalnya ibu mereka sepakat untuk menyekolahkan kedua anaknya di sekolah yang sama, supaya saling jaga. Lalu, juga sama pada seragam putih biru. Yonghoon menjemput Leesol karena lama gak nongol padahal hari sudah mulai siang dan ternyata yang dicari masih mengikat tali sepatu di depan pintu rumahnya. “Sepatu baru?” tanya Yonghoon ingin tahu. Leesol menjawab dengan aksi. Usai tali sepatunya tersimpul rapi, tiba-tiba dia melompat berdiri dari jongkoknya dan memajukan satu kaki ke arah Yonghoon dengan tujuan menyombongkan sepatu baru miliknya. “Oooh, cakep, cakep.” ujar Yonghoon sambil angguk-angguk kepala mengakui. Mendengar pujian itu Leesol lantas berkacak pinggang, “Iya, dong.” “Hehe… kalau gitu…” Leesol yakin senyuman yang mendadak muncul di wajah Yonghoon bukanlah pertanda baik. “Boleh diinjak, ya!” “Yonghoon!” “Ciye, sepatu baru. Sepatu baru. Sepatu baru. Sepatu baru.” Setiap kata ‘Sepatu Baru’ ada satu pijakan dari Yonghoon dan Leesol terus berusaha menghindar namun gagal hasilnya kaki Leesol mulai kebas. “Aduh! Aw! AW?!” dasarnya pergerakan Leesol lamban dan reaksinya gitu-gitu aja. Yonghoon jadi semakin semangat mengusili. Dan, ya, sepatu baru Leesol kini penuh bercak tapak sepatu dekil Yonghoon. Yonghoon dan Leesol berlari kejar-kejaran keluar komplek menyusul angkot ke sekolah. Waktu terus berlalu, langkah masih seiring, hingga tahun ketiga bangku SMA. Menurut Leesol, Yonghoon mulai banyak berubah, tidak ada lagi iler di sudut bibirnya, garis bahu kemejanya sudah tidak kedodoran, dan yang paling mencolok tubuhnya kini jauh lebih tinggi dari Leesol. Entah sejak kapan dia kian menjulang, Leesol heran sendiri. “Apa liat-liat, naksir?” Dari pantulan kaca spion tampak kedua alis Yonghoon bergerak naik turun menggoda Leesol. Kemudian Yonghoon terbahak melihat cara Leesol berpantomim pura-pura muntah. “Gak usah dilebih-lebihin gitu, Sol. Aku tau kamu aslinya sayang sama aku.” Sembari Yonghoon menurunkan pijakan kaki motornya mempersilakan Leesol untuk turun dari boncengan, Leesol cubit pelan lengan atas Yonghoon yang ternyata mulai berotot itu. “Aduh! Saltingnya nyubit…” “Nih.” ucap Leesol acuh tak acuh sembari menyodorkan helm yang segera di sambut Yonghoon panik. Leesol memang jutek, tapi rasanya hari ini jauh lebih parah dari biasanya, marah-marah melulu. “Galak amat. Kamu lagi marah ya, Sol?” Bukannya menjawab, Leesol melenggang pergi meninggalkan Yonghoon kebingungan di teras rumahnya. Sedikit kilas balik, sejak memasuki putih abu, Yonghoon jadi banyak kegiatan baik akademik maupun non akademik. Yonghoon senang bersosialisasi dia salurkan energinya dengan ikut organisasi, kegemarannya akan musik mengharuskannya untuk latihan bernyanyi setiap hari senin dan selasa tidak boleh dilewatkan karena Yonghoon akan ikut lomba mewakili nama sekolah, dan sebagai anak yang aktif Yonghoon suka bermain basket setiap dua kali seminggu yaitu jumat dan sabtu jadwal latihan ekstrakurikuler basket. Seminggu penuh! Tapi Yonghoon tidak melakukannya sendirian karena selalu ada Leesol yang menemani. Leesol sendiri ketertarikannya hanya satu yaitu berkonsentrasi pada buku komik kesukaan, jadi tidak ada kegiatan yang bisa dia lakukan setiap menunggu Yonghoon selesai dengan sibuknya selain baca komik. Leesol suka baca komik ditemani Yonghoon. Jadi, setiap kegiatan Yonghoon akan selalu ada Leesol terduduk membungkuk fokus membaca komik yang menutup hampir seluruh wajahnya. Leesol membaca di tempat-tempat yang masih dalam jangkauan Yonghoon; sudut ruangan OSIS, pohon di pinggir lapangan basket, koridor ruangan musik. Pokoknya posisi dimana masing-masing sudut mata Yonghoon dan Leesol harus bisa saling bertemu. Terbiasa ada untuk satu sama lain, saling jaga dan saling percaya menjadi landasan otomatisasi kebersamaan Yonghoon dan Leesol. Jadi berdasarkan dugaan Yonghoon, mungkin Leesol menemukan titik marahnya karena lelah mengalah dan menanti setiap hari. Diam-diam Yonghoon mengikuti langkah si perempuan yang parasnya menyerupai kucing itu dari belakang. Rambut hitam Leesol panjangnya sudah menyentuh pinggang, kemeja dan rok abu yang Leesol kenakan kian ketat tiap tahunnya, lalu saat hendak menaiki tangga menuju kamarnya Leesol menoleh sejenak, “Aku mau baca komik di balkon.” Yonghoon menganga terdistraksi oleh bibir merah yang sudah di poles gincu itu. Leesol tumbuh jadi gadis yang cantik. Diluar kegiatan sekolah, biasanya dua anak manusia yang saling mengasihi itu mengisi hari-hari dengan bersantai di balkon kamar Leesol yang letaknya di lantai dua. Ada pohon belimbing besar yang lagi berbuah menjulang tinggi hingga ranting dan daunnya menyentuh atap jadi peneduh. Ada bangku kayu dan bantal-bantal kecil menambah kesan nyaman. Cepat-cepat Yonghoon mengejar langkah Leesol yang menghentak-hentak, lalu ikut membanting tas ke atas kasur, kemudian berdiri mematung berhadapan dengan Leesol yang tau-tau sudah duduk manis menguasai bangku kayu panjang itu sendirian. Kebiasaan Leesol kalau lagi baca buku betul-betul menutupi seluruh wajah dan dia akan tenggelam dalam sunyi menikmati bacaannya. Leesol cuma baca buku komik tapi bagi Yonghoon rasanya seperti ada tembok yang berdiri tepat di depan wajahnya. Yonghoon bersandar pada railing balkon sambil memasukkan kedua tangannya di dalam saku celana lalu matanya sibuk menghakimi Leesol yang tampak tidak nyaman bolak-balik kertas buku komik favoritnya, ada yang janggal. “Marah, ya?” tanya Yonghoon lagi menguji kesabaran Leesol supaya cepat mendidih, supaya cepat meledak, supaya Yonghoon bisa dengar langsung spesifiknya Leesol marah karena apa. Sementara yang ditanya hanya mengangkat kedua bahunya cuek. Diam-diam Yonghoon mengamati sampul buku komik yang dibaca Leesol, dibacanya spontan “Kimi Ni Todoke.” Pelafalannya yang kaku membuat Leesol melirik dari balik komik. Yonghoon terkikik melihat reaksi dahi mengkerut Leesol yang jelas tersinggung dengan artikulasi Yonghoon. “Pipinya merah malu-malu.” tunjuk Yonghoon mengalihkan perhatian Leesol. Linglung, Leesol bolak-balik memutar buku komiknya memeriksa sampul depan dan belakang lalu berakhir dengan meraba-raba pipinya sendiri seolah memastikan siapa pemilik pipi merah malu-malu yang disebut Yonghoon. “Hahaha… maksud aku… itu orang yang di sampul buku komik. Bukan kamunya…” Picingan sinis Leesol otomatis memaksa Yonghoon untuk menekan gelaknya. “Iya, maaf, maaf. Lagi fokus baca adegan ciuman, ya?” “Gak ada ciuman-ciuman.” balas Leesol akhirnya, walau dengan nada jutek. Leesol tepuk-tepuk tempat kosong di sebelah kirinya memberi isyarat Yonghoon untuk berbaring. “Kamu gak capek?” Yonghoon terperangah. Leesol masih sayang Yonghoon. “Capek…” rengeknya mengayunkan kaki lemah lunglai menuju Leesol. Segera Yonghoon angkat bantalan di atas paha Leesol bergantian dengan merebahkan kepalanya di pangkuan perempuan yang menatapnya dengan pandangan nanar. “Banyak yang harus aku kejar, banyak yang harus aku pikirin, seharusnya aku gak apa-apa selama ada kamu. Tapi kamunya hari ini cuek banget. Udah gitu aku…” Ocehan Yonghoon itu sama sekali tidak digubris Leesol bahkan dia tak bergeming sedikitpun. Dibiarkan Yonghoon mengoceh goler kanan kiri di pangkuan sampai akhirnya lelah sendiri ditelan pulas. Angin sepoi-sepoi bertiup menabrak lembar buku yang Leesol baca. Pecah pula fokusnya, namun Leesol bukannya menyalahkan angin yang menekuk lengkungan halaman terakhir yang dia baca melainkan eksistensi Yonghoon di pangkuannya. “Yonghoon.” Tidak ada jawaban. “Baru lima menit gak usah pura-pura tidur.” Lagi, tidak ada jawaban. “Aku… gak marah…” cicit Leesol dengan volume suara mengecil supaya Yonghoon—kalau betulan tertidur—gak kebangun. Napas Yonghoon tampak dari bahunya yang naik turun meyakinkan Leesol bahwa Yonghoon betul terpulas. Leesol lalu tenggelam dalam kontemplasinya. Mempertimbangkan harus apa dia dengan wajah damai Yonghoon yang diam-diam ingin dia sentuh. Pada kelopak matanya yang terpejam. Lalu pada poni Yonghoon yang berterbangan memamerkan jidatnya. Lalu pada garis rahang Yonghoon yang tegas. Yonghoon tumbuh jadi pemuda dengan paras rupawan. Sampai akhirnya dorongan itu semakin kuat memerintah Leesol untuk menjamah satu titik lagi. Tekstur bibir Yonghoon persis seperti yang selama ini Leesol bayangkan, kecil-kecil kenyal menggemaskan. Lalu Yonghoon mendadak melet. “IH?! Jorok, jorok, jorok.” Leesol teriak kemudian buru-buru menyeka jarinya di kemeja putih abu Yonghoon. Pasalnya, Yonghoon yang memang pura-pura tidur itu sadar kalau dirinya sedang dijamah dan tindakan bodohnya adalah menjulurkan lidah hingga menabrak jari Leesol yang tadinya bertengger di sudut bibirnya. Yonghoon sukses tertawa terpingkal-pingkal, memegang perut, membenamkan wajah pada perut Leesol. “Kamu tuh, oon! Lagian ngapain, sih?” Jarak Yonghoon dan Leesol terlalu dekat namun yang sadar cuma Yonghoon soalnya Leesol sibuk meniup-niup jarinya, Yonghoon sendiri puas senyam-senyum memandangi Leesol dari bawah, menikmati ruang sempit yang tercipta antara mereka berdua. Menurut Yonghoon, Leesol lucu. Sorot bundar yang tajam itu tidak mengintimidasi malah memberi kesan planga-plongo buat Yonghoon gemas sendiri, sudah begitu kombinasi suara Leesol yang terbilang cukup berat untuk ukuran seorang perempuan justru berlawanan dengan raut wajah imutnya menambah satu poin menggemaskan lainnya, dan kombinasi paling aneh adalah bibirnya seringkali mencebik cemberut dibersamai dengan pribadinya yang dominan lebih lembut dan tenang. Jadi Yonghoon percaya diri kalau isengnya barusan pasti akan dimaklumi lalu begitu saja. “Maaf, aku tiba-tiba ingin sentuh aja.” ucap Leesol dengan nada lemah, kalau kata Yonghoon nada orang low cortisol. “Sentuh? Kamu sentuh bibir aku?” Yonghoon melipat tangannya di depan dada. “Ya… enggak. Iya.” “Loh? Iya atau enggak?” “Tadi anginnya kencang, bahkan halaman-halaman buku aku berhamburan, terus rambut kamu juga, jidat kamu jadi kelihatan, tapi kamu kelihatan tidurnya enak.” “Jadi kamu usap bibir aku?” “Gak di usap? Cuma sentuh. Sedikit.” “Oh, gitu.” Yonghoon angguk-angguk kepala sambil terkikik geli. “Aku udah gak fokus baca.” Yonghoon mendongak cuma demi mendapati Leesol yang buang muka. “Kenapa?” “Aku… aku kepikiran.” celingak-celinguk sambil garuk tengkuk menandakan bahwa Leesol sedang tidak nyaman. Perasaan tidak nyaman itu timbul ketika ada Yonghoon di pangkuan merupakan pertanda buruk. Yonghoon percaya diri kalau Leesol nyamannya cuma sama Yonghoon. Leesol kenapa? Yonghoon kemudian bangkit dari tidurnya, lalu berlutut di hadapan Leesol, kedua tangannya bertumpu pada tepi dudukan bangku mengurung tubuh Leesol. Panik, buru-buru Leesol mengangkat buku komik agar menutup wajahnya yang bingung mau dikemanakan setiap kali dia bersitatap dengan Yonghoon. Yonghoon perhatikan sampul buku komik yang menghalangi pandangannya dan terbersit sebuah ide. “Leesol.” Mendengar Yonghoon memanggilnya dengan nada penuh komando jantung Leesol jadi berdegup kencang. “Apa.” “Mau cerita kenapa Leesol marah sama Yonghoon?” Yonghoon mengenal Leesol seperti dirinya sendiri; Leesol di riuh masa kecilnya, Leesol di pijar remajanya, Leesol dengan proses pendewasaannya, Leesol pada setiap lengkung waktunya. Berbekal itu maka praduga Yonghoon soal Leesol tidak mungkin salah. Yonghoon tahu pasti. Ketika Leesol bersuara dari balik buku komiknya, “Memangnya boleh aku marah karena cemburu sama jadwal padat kamu? Marah karena semua waktu kamu bukan milik aku? Marah karena ingin memiliki kamu?” Yonghoon tahu pasti. Selama ini Yonghoon tidak salah menafsirkan, bahwa perasaan di antara mereka bukanlah platonik. Yonghoon tahu pasti. Lekas jemari Yonghoon ikut menggenggam erat sisi buku berlawan dari yang di genggam Leesol. Seperti gerakan membuka pintu, Yonghoon menyelinap masuk dalam persembunyian Leesol, menjemput rasa khawatirnya, mempersempit jarak tubuhnya lebih dekat dengan Leesol, lalu menempelkan kedua kening mereka. Kulit bertemu kulit, napas beradu dengan napas, dan perlahan Yonghoon memejamkan matanya, Leesol patuh mengikuti. Satu detik. Napas Yonghoon terdengar jelas amat tidak beraturan mengganggu pendengaran Leesol. Dua detik. Aroma tubuh Yonghoon menyeruak masuk penciuman Leesol merusak perhatiannya. Tiga detik. Lama sungguh lama, rasanya seperti ada yang mencekik leher Leesol seiring dirinya yang menahan napas. Sampai Yonghoon menarik napas panjang sebelum akhirnya berbisik, “Boleh, Sol. Semuanya marah, cemburu, kesal. Kamu berhak atas perasaan kamu untuk aku.” Suara Yonghoon bergetar. Leesol beranikan diri untuk membuka mata perlahan menemukan hidung Yonghoon yang bersinggungan pada hidungnya pada jarak yang hanya sejengkal pertukaran deru napas. Pelan bola mata Leesol bergerak ingin sekali saja menatap tegak lurus menemukan kelopak dan bulu mata Yonghoon yang terpejam terus gemetaran. “Yonghoon…” satu tangan Leesol yang masih bebas kini meremas rok sekolahnya, tak kuat menahan rasa gugup yang menerpa. Yonghoon juga sama, walau matanya terpejam tapi jantungnya terus meletup dan seperti ada suara dengungan yang mengitari isi perutnya. Apalagi saat membuka mata ada wajah Leesol yang bersentuhan dengan wajahnya membuat Yonghoon merasa mual. “Boleh, Sol. Semua waktu aku milik kamu. Aku milik kamu.” Leesol terbelalak melihat ketulusan Yonghoon pada setiap baitnya. “Yonghoon milik Leesol.” Ketika gerakan kelopak mata yang sudah lebih stabil itu membuka dan menatap Leesol secara terang-terangan. Mata Yonghoon bercahaya, hidung Yonghoon menggesek hidung Leesol dengan gemas meminta jawaban, lalu ditutup dengan sebuah anggukan tipis yang hampir mempertemukan garis bibir mereka. “Leesol boleh peluk Yonghoon?” Yonghoon membuka kedua tangannya lalu tersenyum, “Boleh.” Leesol membenamkan kepala di ceruk leher Yonghoon, mengistirahatkan ragu dan khawatir yang belakangan menghantuinya, membiarkan Yonghoon membasuh segala marah dan cemburu dengan kasih dan sayang. “Mulai hari ini akan ada sesi khusus Leesol’s Time di sela-sela jadwal aku. Waktu dan kegiatannya terserah kamu. Kegiatannya boleh sentuh bibir, sentuh wajah, peluk-peluk, cium-cium…” Angin yang bertiup dan daun-daun pohon belimbing yang berguguran menjadi saksi, Yonghoon dan Leesol yang saling mencintai.

Ilustrasi: